Memuat...
23 February 2026 10:49

Invisible Pressure: Tekanan Sosial yang Tidak Terucap tapi Menggerogoti Mental

Bagikan artikel

Tidak semua tekanan hadir dalam bentuk tuntutan yang jelas atau perintah langsung. Banyak tekanan sosial justru bekerja secara diam-diam melalui ekspektasi, perbandingan, dan norma tidak tertulis. Tekanan semacam ini sering kali tidak disadari, tetapi dampaknya perlahan menggerogoti kesehatan mental individu.

 

Ekspektasi Sosial yang Tidak Pernah Diucapkan

Dalam kehidupan sehari-hari, individu kerap menyesuaikan diri dengan standar sosial tanpa pernah benar-benar diminta. Cooley melalui konsep looking-glass self menjelaskan bahwa cara seseorang menilai dirinya sangat dipengaruhi oleh bagaimana ia membayangkan orang lain memandangnya. Tekanan muncul bukan karena tuntutan eksplisit, melainkan karena asumsi tentang apa yang “seharusnya” dilakukan (Cooley, 1902).

Tekanan yang tidak terucap ini sering kali lebih sulit dikenali karena dianggap sebagai bagian normal dari kehidupan sosial, padahal secara psikologis dapat menimbulkan kecemasan laten dan rasa tidak pernah cukup.

 

Perbandingan Sosial sebagai Sumber Tekanan Halus

Festinger (1954) menjelaskan bahwa manusia secara alami melakukan perbandingan sosial untuk memahami posisinya. Di era digital, proses ini semakin intens karena individu terus-menerus terekspos pada pencapaian, kebahagiaan, dan keberhasilan orang lain.

Perbandingan yang berulang, meski tidak disadari, dapat menumbuhkan tekanan internal untuk “mengejar standar” tertentu. Tekanan ini jarang diungkapkan secara verbal, tetapi tercermin dalam rasa bersalah, iri, atau ketidakpuasan terhadap diri sendiri.

 

Norma Diam-diam dan Ketakutan Akan Penolakan

Tekanan sosial juga muncul dari norma implisit yang mengatur bagaimana seseorang seharusnya bersikap, berpikir, atau merasakan. Asch (1956) menunjukkan bahwa individu cenderung menyesuaikan diri dengan kelompok meskipun bertentangan dengan penilaian pribadinya, demi menghindari penolakan sosial.

Ketakutan akan penilaian negatif membuat banyak orang menekan emosi atau kebutuhan personal. Dalam jangka panjang, hal ini dapat memicu kelelahan emosional karena individu terus berperan sesuai ekspektasi, bukan sesuai kondisi dirinya.

 

Dampak Psikologis yang Akumulatif

Berbeda dengan stres akut, tekanan sosial yang tidak terucap bekerja secara akumulatif. Lazarus dan Folkman (1984) menjelaskan bahwa stres kronis yang tidak dikelola dapat menguras sumber daya psikologis, bahkan ketika pemicunya tampak ringan atau tidak jelas.

Akibatnya, individu mungkin merasa lelah tanpa tahu penyebabnya, mudah tersinggung, atau kehilangan motivasi. Karena tekanannya tidak terlihat, pengalaman ini sering dianggap sebagai kelemahan pribadi, bukan respons terhadap tekanan sosial.

 

Peran Asesmen Psikologi dalam Membaca Tekanan Tersembunyi

Asesmen psikologi dapat membantu mengungkap tekanan sosial yang tidak selalu disadari individu. Melalui kombinasi tes psikologis, wawancara, dan observasi, psikolog dapat memetakan sumber stres, pola coping, serta kebutuhan psikologis yang terabaikan. Pendekatan ini sejalan dengan pandangan bahwa asesmen berfungsi sebagai alat pemahaman menyeluruh terhadap individu (Groth-Marnat & Wright, 2016).

Dengan pemahaman yang lebih utuh, individu dapat mulai membedakan antara tuntutan eksternal yang realistis dan tekanan internal yang terbentuk dari asumsi sosial.

Melalui layanan asesmen psikologi yang dilakukan secara profesional dan etis, Smile Consulting Indonesia membantu individu dan organisasi mengidentifikasi tekanan psikologis tersembunyi serta merancang langkah pengembangan yang lebih sehat dan berkelanjutan.





Referensi:

Asch, S. E. (1956). Studies of independence and conformity. Psychological Monographs.

Cooley, C. H. (1902). Human Nature and the Social Order.

Festinger, L. (1954). A theory of social comparison processes. Human Relations.

Groth-Marnat, G., & Wright, A. J. (2016). Handbook of Psychological Assessment.

Lazarus, R. S., & Folkman, S. (1984). Stress, Appraisal, and Coping.

Bagikan