Masa muda sering disebut sebagai fase paling bebas dalam hidup seperti penuh energi, kesempatan, dan eksplorasi. Namun, di balik narasi optimistis itu, banyak generasi muda justru merasa seolah waktu berjalan terlalu cepat, dan mereka tertinggal dalam ketidakpastian. Pilihan-pilihan besar seperti menentukan karier, membina hubungan yang serius, hingga menanggung tanggung jawab keluarga, kini tidak lagi menjadi hal yang menanti di usia matang, melainkan hadir sejak awal 20-an, bahkan remaja. Tekanan itu membuat banyak anak muda dilanda kecemasan yang dalam sebuah kondisi yang secara psikologis dikenal sebagai anxiety.
Kecemasan bukanlah sekadar rasa gugup. Dalam kerangka psikologis, kecemasan didefinisikan sebagai reaksi emosional terhadap ancaman atau tekanan, baik nyata maupun yang dibayangkan. Pada generasi muda, kecemasan ini sering kali bersifat internal dimana sebuah kekhawatiran berlebihan terhadap kemungkinan salah langkah, gagal memenuhi ekspektasi, atau tidak menjadi “cukup baik”. Di tengah dunia yang serba cepat dan penuh perbandingan sosial, ketakutan tersebut tumbuh liar, menyusup ke berbagai aspek hidup sehari-hari.
Salah satu sumber utama kecemasan adalah persoalan pilihan karier. Di usia yang masih mencari jati diri, banyak anak muda dituntut untuk membuat keputusan besar tentang masa depan: jurusan kuliah, bidang pekerjaan, bahkan jenjang pendidikan lanjutan. Tak sedikit yang merasa terjebak antara mengikuti passion atau memilih jalur “aman” sesuai harapan keluarga. Ketika pilihan tidak jelas, atau saat merasa tertinggal dari teman sebaya yang sudah “lebih sukses”, muncul rasa cemas yang berkelanjutan. Media sosial memperburuk situasi—setiap pencapaian orang lain bisa terlihat seperti standar baru yang harus dicapai, padahal kenyataannya tidak semua orang memulai dari titik yang sama.
Persoalan berikutnya datang dari ranah hubungan interpersonal. Menjalin hubungan romantis, membina pertemanan yang sehat, atau menghadapi konflik dalam keluarga bisa menjadi sumber tekanan yang tidak kalah besar. Generasi muda hari ini hidup dalam budaya relasi yang sangat cair, di mana kepastian emosional sulit ditemukan. Tak jarang seseorang merasa takut untuk membuka diri karena trauma masa lalu atau takut dihakimi. Hubungan yang semestinya menjadi tempat pulang, justru menjadi medan yang penuh keraguan. Ketika cinta dan koneksi menjadi sumber kecemasan, bukan ketenangan, maka yang lahir bukanlah kedewasaan emosional, melainkan sikap menarik diri.
Tanggung jawab besar pun tak luput dari peranannya dalam menambah beban mental generasi muda. Ada yang sejak dini harus menopang ekonomi keluarga, menjadi pengganti peran orang tua, atau mengambil keputusan yang jauh melampaui usia dan kematangan emosional mereka. Dalam banyak kasus, peran-peran ini diambil bukan karena pilihan, tetapi karena keadaan. Menyandang tanggung jawab tanpa dukungan memadai sering membuat mereka merasa sendirian dan tidak cukup kompeten, sekalipun mereka terus berjuang.
Gejala dari kecemasan ini bisa bermacam-macam: dari gangguan tidur, mudah lelah, hingga kesulitan berkonsentrasi. Emosi pun menjadi tak stabil seperti cepat marah, merasa kosong, atau selalu khawatir tanpa alasan jelas. Tak jarang muncul pula kecenderungan menghindari tantangan, menunda pekerjaan, atau kehilangan minat pada hal-hal yang dulu disukai. Semua ini bisa menjadi pintu masuk menuju kondisi psikologis yang lebih berat seperti depresi atau burnout.
Namun, kabar baiknya, kecemasan bukan akhir dari segalanya. Banyak pendekatan yang bisa dilakukan untuk mengelola kecemasan, bahkan menjadikannya sebagai bahan bakar pertumbuhan diri. Salah satu pendekatan yang terbukti efektif adalah terapi kognitif-perilaku atau Cognitive Behavioral Therapy (CBT), yang membantu individu mengenali pola pikir negatif dan menggantinya dengan cara berpikir yang lebih rasional dan adaptif. Terapi ini banyak digunakan dalam menangani gangguan kecemasan di kalangan remaja dan dewasa muda, termasuk di berbagai layanan kesehatan mental kampus atau klinik psikologi remaja (Beesdo et al., 2009; Hofmann et al., 2012).
Selain pendekatan profesional, membangun dukungan sosial yang sehat juga sangat membantu. Keluarga, teman dekat, atau komunitas yang mendukung bisa menjadi tempat berbagi tanpa takut dihakimi. Aktivitas seperti olahraga rutin, meditasi, journaling, atau sekadar berjalan di alam terbuka pun terbukti membantu menenangkan sistem saraf dan menurunkan hormon stres (Sharma et al., 2006). Yang tak kalah penting, adalah memberikan ruang kepada diri sendiri untuk tidak selalu “harus tahu arah”. Kadang, justru dari kebingungan dan rasa tidak pasti itu muncul pemahaman baru akan siapa kita sebenarnya.
Generasi muda tidak kekurangan semangat atau kapasitas. Yang mereka butuhkan adalah ruang aman untuk tumbuh, gagal, bereksplorasi, dan dimengerti. Ketika masyarakat berhenti menuntut kesempurnaan dan mulai mendengarkan dengan empati, maka beban kecemasan bisa perlahan berkurang, karena sejatinya, tidak ada yang benar-benar siap menghadapi pilihan besar dalam hidup. Sebagai biro psikologi terpercaya, Smile Consulting Indonesia adalah vendor psikotes yang juga menyediakan layanan psikotes online dengan standar profesional tinggi untuk mendukung keberhasilan asesmen Anda.
Referensi:
Beesdo, K., Knappe, S., & Pine, D. S. (2009). Anxiety and anxiety disorders in children and adolescents: developmental issues and implications for DSM-V. Psychiatric Clinics of North America, 32(3), 483–524. https://doi.org/10.1016/j.psc.2009.06.002
Hofmann, S. G., Asnaani, A., Vonk, I. J., Sawyer, A. T., & Fang, A. (2012). The Efficacy of Cognitive Behavioral Therapy: A Review of Meta-analyses. Cognitive Therapy and Research, 36(5), 427–440. https://doi.org/10.1007/s10608-012-9476-1
Sharma, M., & Haider, T. (2006). Yoga as an alternative and complementary treatment for stress management: a systematic review. Journal of Evidence-Based Complementary & Alternative Medicine, 11(2), 61–71. https://doi.org/10.1177/1533210105285194
Child Mind Institute. (2023). Signs of Anxiety in Teenagers. https://childmind.org/article/signs-of-anxiety-in-teenagers/
McLean Hospital. (2024). What Does Anxiety Look Like in Kids and Teens? https://www.mcleanhospital.org/essential/anxiety-kids-teens