Tidak semua masalah psikologis muncul dalam bentuk emosi yang berlebihan. Pada sebagian orang, justru ketiadaan emosi yang terasa menjadi tanda adanya tekanan psikologis yang mendalam. Emotional numbness atau mati rasa emosional adalah kondisi ketika seseorang merasa datar, kosong, atau tidak benar-benar merasakan emosi, baik yang menyenangkan maupun yang menyakitkan.
Sekilas, kondisi ini terlihat “aman” karena individu tidak lagi merasa sedih, marah, atau cemas secara intens. Namun, dalam perspektif psikologi, ketidakmampuan merasakan emosi justru dapat menjadi sinyal bahwa sistem psikologis sedang berusaha melindungi diri dari beban yang terlalu berat.
Emotional Numbness sebagai Mekanisme Perlindungan Psikologis
Emotional numbness sering dipahami sebagai mekanisme pertahanan diri (defense mechanism). Ketika emosi terasa terlalu menyakitkan atau berulang tanpa penyelesaian, sistem psikologis dapat “mematikan volume” emosi sebagai bentuk perlindungan. Freud sejak awal menjelaskan bahwa mekanisme pertahanan muncul untuk menjaga individu dari kecemasan yang tidak tertahankan, meskipun dengan konsekuensi tertentu.
Dalam pendekatan trauma, Van der Kolk (2014) menjelaskan bahwa mati rasa emosional sering muncul pada individu yang mengalami tekanan kronis atau peristiwa traumatis. Emosi tidak hilang sepenuhnya, tetapi ditekan agar individu tetap dapat berfungsi dalam kehidupan sehari-hari.
Namun, perlindungan ini bersifat sementara. Ketika berlangsung terlalu lama, individu tidak hanya terputus dari emosi negatif, tetapi juga dari rasa senang, keterhubungan, dan makna hidup.
Perbedaan Emotional Numbness dan Ketenangan Emosional
Penting untuk membedakan emotional numbness dari kondisi tenang secara emosional. Ketenangan ditandai dengan kemampuan merasakan emosi secara utuh tanpa kewalahan, sedangkan emotional numbness ditandai dengan kesulitan atau ketidakmampuan merasakan emosi sama sekali.
Gross (2015) menjelaskan bahwa regulasi emosi yang sehat memungkinkan individu mengenali, menerima, dan mengelola emosi. Sebaliknya, pada emotional numbness, proses pengenalan emosi justru terhambat. Individu sering mengatakan “aku tahu seharusnya sedih atau senang, tapi rasanya kosong”.
Kondisi ini membuat individu kesulitan membaca kebutuhan dirinya sendiri dan merespons situasi secara adaptif, karena emosi berfungsi sebagai kompas psikologis.
Faktor-Faktor yang Berkontribusi terhadap Emotional Numbness
Emotional numbness dapat muncul akibat berbagai faktor. Tekanan berkepanjangan, kelelahan emosional, pengalaman kehilangan, atau tuntutan hidup yang tinggi sering menjadi pemicu. Dalam konteks kerja, individu yang terus berada dalam kondisi high demand–low recovery lebih rentan mengalami keterputusan emosional.
Selain itu, pengalaman pengasuhan yang menekan ekspresi emosi juga berperan. Penelitian tentang emotional suppression menunjukkan bahwa individu yang terbiasa menahan emosi sejak dini cenderung mengembangkan jarak emosional sebagai strategi bertahan (John & Gross, 2004).
Dalam jangka panjang, strategi ini dapat menghambat kemampuan individu untuk membangun hubungan yang intim dan bermakna dengan orang lain.
Dampak Emotional Numbness terhadap Kehidupan Sehari-hari
Meskipun tampak “baik-baik saja”, emotional numbness memiliki dampak signifikan terhadap kualitas hidup. Individu sering merasa hidup berjalan secara otomatis, tanpa keterlibatan emosional. Aktivitas yang dulu bermakna terasa hambar, dan relasi sosial terasa jauh.
Penelitian menunjukkan bahwa mati rasa emosional berkaitan dengan peningkatan risiko depresi dan disosiasi. American Psychiatric Association (2022) mencatat bahwa gejala seperti perasaan hampa dan keterputusan emosional sering muncul dalam gangguan suasana hati dan gangguan terkait stres.
Jika tidak disadari, kondisi ini dapat bertahan lama karena individu tidak merasakan “alarm emosional” yang biasanya mendorong seseorang untuk mencari bantuan.
Mengapa Banyak Orang Tidak Menyadari Emotional Numbness
Salah satu tantangan utama emotional numbness adalah sifatnya yang tidak mengganggu secara langsung. Karena tidak ada ledakan emosi, individu sering menganggap kondisinya normal atau bahkan lebih baik dibandingkan sebelumnya.
Budaya yang mengagungkan ketahanan dan kemampuan “tetap jalan meski lelah” turut memperkuat normalisasi kondisi ini. Menurut Baumeister dan Vohs (2007), manusia cenderung menyesuaikan diri dengan kondisi psikologis yang menekan selama masih bisa berfungsi secara sosial.
Akibatnya, emotional numbness baru disadari ketika individu mulai kehilangan motivasi, arah hidup, atau rasa keterhubungan yang mendalam.
Peran Asesmen Psikologi dalam Mengidentifikasi Mati Rasa Emosional
Asesmen psikologi berperan penting dalam membantu individu mengenali pola emosional yang tidak disadari. Melalui kombinasi tes psikologi, wawancara klinis, dan observasi, kondisi emotional numbness dapat diidentifikasi secara lebih objektif.
Asesmen tidak berfungsi sebagai label, melainkan sebagai alat refleksi untuk memahami bagaimana individu merespons stres, emosi, dan pengalaman hidup. Dengan pemahaman ini, intervensi dapat dirancang secara lebih tepat, baik melalui konseling, psikoterapi, maupun pendekatan pengembangan diri.
Melalui layanan asesmen dan pendampingan psikologis yang dilakukan secara profesional dan etis, Smile Consulting Indonesia membantu individu mengenali pola emosi tersembunyi, termasuk kondisi emotional numbness, agar proses pemulihan dan pengembangan diri dapat berjalan lebih sadar dan bermakna.
Referensi:
American Psychiatric Association. (2022). DSM-5-TR: Diagnostic and statistical manual of mental disorders (5th ed., text rev.).
Baumeister, R. F., & Vohs, K. D. (2007). Self‐regulation, ego depletion, and motivation. Social and Personality Psychology Compass, 1(1), 115–128.
Gross, J. J. (2015). Emotion regulation: Current status and future prospects. Psychological Inquiry, 26(1), 1–26.
John, O. P., & Gross, J. J. (2004). Healthy and unhealthy emotion regulation. Journal of Personality, 72(6), 1301–1334.
Van der Kolk, B. A. (2014). The body keeps the score. Viking.