Memuat...
09 December 2025 11:47

Self-Efficacy Scale: Keyakinan Diri sebagai Pondasi Kesuksesan

Bagikan artikel

Percaya Diri Bukan Sekadar Merasa Mampu

Pernahkah kamu menghadapi tugas yang terasa sulit, mungkin proyek besar di tempat kerja, atau ujian penting yang menentukan masa depan, lalu kamu berpikir, “Aku nggak yakin bisa.”

Padahal, kalau orang lain yang menghadapi hal yang sama, kamu mungkin akan berkata padanya, “Kamu pasti bisa, yang penting dicoba dulu.”

Keyakinan sederhana seperti itu, ternyata bukan hanya soal optimisme. Dalam psikologi, ia dikenal sebagai self-efficacy, yaitu kepercayaan pada kemampuan diri untuk mengatur, mengarahkan, dan melaksanakan tindakan yang dibutuhkan agar berhasil menghadapi situasi tertentu.

Konsep ini dikembangkan oleh Albert Bandura, tokoh penting dalam psikologi sosial dan teori pembelajaran sosial. Menurut Bandura, keyakinan terhadap kemampuan diri adalah fondasi dari setiap perilaku manusia, karena sebelum seseorang bertindak, ia harus lebih dulu yakin bahwa tindakannya bisa membawa hasil.

 

Apa Itu Self-Efficacy Menurut Bandura?

Albert Bandura menggambarkan self-efficacy sebagai kepercayaan seseorang terhadap kemampuannya untuk mengorganisasi dan melaksanakan tindakan yang diperlukan guna mencapai hasil tertentu.Dengan kata lain, ini bukan tentang apakah seseorang punya kemampuan, melainkan apakah ia percaya bahwa kemampuannya cukup untuk digunakan secara efektif. Dua orang bisa punya kemampuan yang sama, tapi hasilnya berbeda  hanya karena satu percaya ia bisa mengatasinya, dan yang lain tidak. Itulah mengapa self-efficacy sering dianggap sebagai “mesin psikologis” yang menggerakkan perilaku manusia.

Bandura menyebutkan empat sumber utama yang membentuk self-efficacy:

  • Pengalaman keberhasilan (mastery experiences): keberhasilan masa lalu yang menumbuhkan keyakinan diri.

  • Model sosial (vicarious experience): melihat orang lain berhasil, membuat kita percaya bahwa kita pun bisa.

  • Persuasi sosial (social persuasion): dorongan, dukungan, dan kata-kata positif dari orang lain.

  • Kondisi fisiologis dan emosional: perasaan tenang atau cemas memengaruhi sejauh mana kita merasa mampu menghadapi tantangan.

 

Mengapa Self-Efficacy Penting di Dunia Kerja dan Pendidikan

Bayangkan dua karyawan yang diberi tugas sama: memimpin proyek baru dengan risiko besar. Karyawan yang pertama panik dan merasa tidak mampu. Karyawan yang kedua berpikir, “Aku belum tahu semua jawabannya, tapi aku bisa belajar.” Keduanya memiliki situasi yang identik, namun hasil akhirnya bisa jauh berbeda.

Self-efficacy berperan besar dalam menentukan seberapa gigih seseorang menghadapi kesulitan, bagaimana ia mengelola stres, dan seberapa cepat ia bangkit setelah gagal. Dalam konteks kerja, individu dengan self-efficacy tinggi digambarkan dengan karakter yang lebih berani mengambil inisiatif, mampu memimpin diri dan orang lain, tidak mudah putus asa ketika menghadapi tekanan.

Sementara di dunia pendidikan, siswa dengan self-efficacy tinggi lebih tekun belajar, lebih percaya bahwa usaha mereka akan membuahkan hasil, dan lebih tenang menghadapi ujian. Penelitian bahkan menunjukkan bahwa self-efficacy sering kali menjadi prediktor keberhasilan akademik yang lebih kuat dibandingkan sekadar IQ atau kemampuan kognitif.

 

Bagaimana Self-Efficacy Diukur?

Untuk memahami sejauh mana seseorang percaya pada kemampuannya, para peneliti mengembangkan Self-Efficacy Scale, yang dikembangkan oleh Schwarzer dan Jerusalem (1995) dalam versi yang paling populer, yaitu General Self-Efficacy Scale (GSES).

Skala ini berisi serangkaian pernyataan seperti:

Saya yakin bisa menemukan cara untuk mengatasi kesulitan.”
Bahkan ketika sesuatu terasa sulit, saya tahu saya bisa menemukan solusi.”

Melalui penilaian ini, dapat diketahui sejauh mana seseorang memiliki keyakinan diri dalam menghadapi situasi menantang, baik di tempat kerja, di sekolah, maupun dalam kehidupan sehari-hari.

 

Ketika Keyakinan Diri Tidak Selalu Stabil

Menariknya, self-efficacy tidak bersifat tetap. Ia bisa naik turun tergantung konteks, pengalaman, dan lingkungan sosial. Seseorang bisa sangat yakin di bidang pekerjaan, tetapi ragu dalam hubungan sosial, atau sebaliknya, percaya diri dalam berinteraksi, namun cemas saat harus mengambil keputusan penting.

Rendahnya self-efficacy sering membuat seseorang enggan mencoba hal baru, takut gagal, atau menilai tantangan sebagai ancaman. Sebaliknya, tingkat self-efficacy yang sehat mendorong seseorang untuk melihat tantangan sebagai peluang untuk belajar dan berkembang. Perbedaannya bukan pada hasil akhirnya, tapi pada bagaimana seseorang menafsirkan kesulitan.




Menumbuhkan Self-Efficacy dalam Kehidupan Sehari-hari

Menumbuhkan self-efficacy tidak memerlukan perubahan besar, justru berawal dari langkah-langkah kecil yang memberi bukti nyata bahwa kita mampu.
Cobalah mulai dari hal-hal berikut:

  • Kumpulkan pengalaman keberhasilan kecil. Setiap keberhasilan adalah “bukti” bagi otak bahwa kamu mampu. Semakin sering kamu berhasil, semakin kuat keyakinanmu.

  • Belajar dari orang lain, bukan membandingkan. Melihat orang lain berhasil bisa menjadi inspirasi, bukan ancaman.

  • Ubah cara berbicara pada diri sendiri. Kalimat seperti “Aku nggak bisa” bisa diganti menjadi “Aku belum bisa, tapi aku bisa belajar.”

  • Kelola stres dan emosi. Pikiran yang tenang membuat kita lebih percaya pada kemampuan diri.

Self-efficacy tumbuh seiring waktu, ketika kita mulai mengakui setiap langkah kecil yang sudah berhasil kita lalui, sekecil apa pun itu.

 

Keyakinan Diri sebagai Titik Awal Perubahan

Albert Bandura pernah mengatakan, Self-efficacy bukan tentang merasa pasti akan berhasil, tetapi yakin bahwa kita bisa memengaruhi hasil melalui tindakan kita.

Itulah inti dari keyakinan diri sejati, bukan sekadar percaya semuanya akan baik-baik saja, tetapi tahu bahwa kita punya kendali untuk membuatnya menjadi lebih baik. Karena sering kali, kesuksesan bukan dimulai dari kesempatan besar, melainkan dari keberanian untuk berkata:
Aku percaya, aku bisa mencoba.”

 

Biro psikologi Smile Consulting Indonesia menyediakan jasa psikotes untuk berbagai kebutuhan asesmen psikologi, baik untuk individu maupun perusahaan. Layanan kami dirancang untuk memberikan hasil yang akurat dan terpercaya.

 

Referensi : 

Bandura, A. (1997). Self-Efficacy: The Exercise of Control. New York: Freeman.

Schwarzer, R., & Jerusalem, M. (1995). Generalized Self-Efficacy Scale. In J. Weinman, S.
Wright, & M. Johnston (Eds.), Measures in Health Psychology: A User’s Portfolio. Windsor: NFER-Nelson.

Stajkovic, A. D., & Luthans, F. (1998). Self-efficacy and work-related performance: A meta-analysis. Psychological Bulletin, 124(2), 240–261.

Bagikan