Memuat...
07 January 2026 10:17

Social Connectedness Scale: Menyelami Rasa Terhubung di Dunia yang Serba Sibuk

Bagikan artikel

Bayangkan ini: kamu duduk di sebuah kafe yang ramai, gelak tawa orang-orang di sekeliling terdengar jelas, namun di dalam diri kamu terasa hampa. Atau saat membuka media sosial, melihat teman-teman tampak bahagia dengan liburan, acara keluarga, atau pencapaian kerja, dan tiba-tiba muncul perasaan, “Mengapa aku merasa sendirian?” Fenomena ini bukan hanya imajinasi, banyak orang di dunia modern merasakan hal serupa. Terlebih setelah pandemi, interaksi tatap muka terbatas, pekerjaan dan sekolah dilakukan dari rumah, dan hubungan sosial semakin tergantikan oleh layar digital.

Di sinilah Social Connectedness Scale (SCS) menjadi alat yang menarik untuk dipahami. SCS bukan sekadar kuisioner atau angka statistik. Ia adalah jendela untuk memahami sejauh mana kita merasa terhubung secara emosional dan psikologis dengan orang lain dan lingkungan sekitar. Alat ini menilai kualitas rasa keterhubungan kita, bukan sekadar kuantitas teman atau frekuensi interaksi.

 

 

Apa yang Dimaksud dengan “Rasa Terhubung”?

Rasa terhubung adalah perasaan bahwa kita dihargai, diterima, dan memiliki peran dalam lingkungan sosial. Ini bukan tentang menjadi pusat perhatian atau punya banyak teman di media sosial. Seorang mahasiswa, misalnya, bisa memiliki ratusan teman di platform daring, tapi tetap merasa kesepian karena tidak ada yang benar-benar memahami perjuangannya, memberi dukungan emosional, atau hadir saat ia membutuhkan.

SCS membantu mengukur dimensi psikologis ini. Skor tinggi menandakan seseorang merasakan kedekatan emosional, dukungan sosial, dan keterlibatan dalam komunitas. Skor rendah, sebaliknya, bisa menjadi indikator isolasi sosial dan kesepian yang nyata yang berkaitan erat dengan stres, kecemasan, bahkan depresi.



Kenapa Rasa Terhubung Itu Penting?

Rasa terhubung bukan sekadar “perasaan hangat” atau kebutuhan sosial yang bisa diabaikan. Penelitian menunjukkan bahwa manusia adalah makhluk sosial; keterhubungan memiliki pengaruh mendalam pada berbagai aspek kehidupan:

  1. Kesejahteraan emosional: Orang yang merasa terhubung cenderung lebih tangguh menghadapi tekanan hidup, konflik, dan kehilangan. Mereka memiliki “jaring pengaman” emosional yang membuat stres lebih mudah dikelola.

  2. Kesehatan fisik: Kesepian kronis dapat berdampak serius pada tubuh, termasuk peningkatan risiko penyakit jantung, gangguan tidur, dan penurunan sistem imun. Dengan kata lain, keterhubungan sosial adalah bagian dari kesehatan secara keseluruhan.

  3. Identitas dan harga diri: Ketika seseorang merasa diterima, ia merasakan keberadaan dan kontribusinya penting. Perasaan ini membentuk kepercayaan diri, rasa aman, dan tujuan hidup.

  4. Produktivitas dan kreativitas: Keterhubungan sosial yang sehat mendorong kolaborasi, ide-ide baru, dan keberanian untuk mengambil risiko dalam pekerjaan atau proyek pribadi.

 

Kesepian dan Isolasi Sosial di Era Digital

Pandemi memperparah masalah kesepian. Banyak dari kita terpaksa membatasi interaksi fisik, bekerja dari rumah, dan lebih mengandalkan komunikasi digital. Namun, hubungan daring sering kali tidak memberikan kedekatan emosional yang sejati. Kita bisa berinteraksi dengan banyak orang, tapi tetap merasa terisolasi karena kurangnya kehadiran nyata, perhatian, dan empati yang terasa.

Social Connectedness Scale memungkinkan kita menyadari kondisi ini. Misalnya, seseorang yang sering menghabiskan waktu di media sosial tetapi skor SCS-nya rendah dapat memahami bahwa jumlah “teman online” tidak selalu berarti koneksi emosional yang sehat. Kesadaran ini bisa menjadi langkah awal untuk mencari interaksi yang lebih bermakna, baik melalui komunitas, kegiatan sosial, atau hubungan intim dengan keluarga dan teman dekat.

 

 

Bagaimana SCS Bisa Membantu Kita Secara Pribadi

SCS bukan hanya untuk penelitian ilmiah. Bagi pembaca awam, alat ini bisa menjadi cermin untuk refleksi diri:

  • Menyadari perasaan kesepian atau keterasingan, sehingga kita tidak menganggapnya sebagai kelemahan pribadi.

  • Membantu menemukan strategi untuk memperkuat koneksi sosial, seperti ikut komunitas hobi, relawan, atau mengatur waktu berkualitas dengan orang terdekat.

  • Memahami hubungan antara rasa terhubung dan kesejahteraan psikologis, sehingga dapat lebih proaktif menjaga kesehatan mental.

Seperti yang ditunjukkan oleh para peneliti, keterhubungan sosial bukan sekadar kebutuhan emosional, tapi dasar bagi kehidupan manusia yang sehat dan bermakna.

 

 

Kesimpulan

Social Connectedness Scale membantu kita menyadari satu hal yang sering terlupakan: koneksi emosional itu lebih penting daripada sekadar interaksi fisik atau jumlah teman. Alat ini menekankan kualitas hubungan, bukan kuantitas, dan memberikan wawasan bagaimana kesepian dan isolasi sosial bisa memengaruhi kesejahteraan psikologis.

Di dunia yang serba sibuk dan terkadang penuh isolasi digital, SCS menjadi alat refleksi penting. Ia mengajak kita mempertanyakan: “Apakah aku benar-benar merasa terhubung? Apakah hubunganku memberi dukungan dan makna?” Dengan kesadaran ini, kita bisa mulai membangun kembali koneksi yang sehat, mendalam, dan memuaskan bukan hanya di dunia maya, tapi juga dalam kehidupan nyata.

Biro psikologi Smile Consulting Indonesia menyediakan jasa psikotes untuk berbagai kebutuhan asesmen psikologi, baik untuk individu maupun perusahaan. Layanan kami dirancang untuk memberikan hasil yang akurat dan terpercaya.

 

 

Referensi:

Lee, R. M., & Robbins, S. B. (1995). Measuring belongingness: The Social Connectedness and the Social Assurance scales. Journal of Counseling Psychology, 42(2), 232–241.

Cacioppo, J. T., & Cacioppo, S. (2014). Social relationships and health: The toxic effects of perceived social isolation. Social and Personality Psychology Compass, 8(2), 58–72.

Hawkley, L. C., & Cacioppo, J. T. (2010). Loneliness matters: A theoretical and empirical review of consequences and mechanisms. Annals of Behavioral Medicine, 40(2), 218–227.

Bagikan