Dalam kehidupan sosial sehari-hari, respons manusia terhadap tekanan tidak selalu muncul dalam bentuk perlawanan, ekspresi emosi yang terbuka, atau komunikasi asertif. Sebagian individu justru memilih diam, menahan pendapat, atau menarik diri dari interaksi sebagai cara menghadapi situasi yang dirasakan penuh tuntutan. Diam seringkali dipersepsikan secara negatif dianggap sebagai tanda kelemahan, ketidakmampuan menghadapi masalah, atau kurangnya keberanian. Namun, dalam perspektif psikologi, diam dapat dipahami sebagai bentuk strategi bertahan yang kompleks dan bermakna, khususnya dalam konteks coping passive.
Coping merujuk pada upaya kognitif dan perilaku individu untuk mengelola tuntutan internal maupun eksternal yang dipersepsikan melebihi sumber daya yang dimilikinya. Lazarus dan Folkman (1984) menegaskan bahwa coping bukanlah respons tunggal yang seragam, melainkan proses dinamis yang sangat dipengaruhi oleh penilaian individu terhadap situasi. Dalam kerangka ini, coping passive seperti diam, menghindar, atau menekan emosi muncul ketika individu menilai situasi sebagai sulit dikendalikan, berisiko secara sosial, atau tidak aman untuk dihadapi secara terbuka.
Tekanan sosial merupakan salah satu konteks utama yang memunculkan coping passive. Tekanan ini dapat berasal dari berbagai sumber, seperti tuntutan keluarga, relasi interpersonal, lingkungan kerja, institusi pendidikan, hingga norma budaya yang kuat. Dalam situasi tersebut, individu seringkali dihadapkan pada dilema antara mengekspresikan diri secara jujur atau menjaga harmoni sosial. Ketika konsekuensi sosial dari berbicara seperti konflik, penolakan, atau stigma dirasa terlalu besar, diam menjadi pilihan yang dianggap paling aman.
Secara psikologis, diam dalam tekanan sosial dapat dipahami melalui konsep social self-preservation. Leary dan Kowalski (1995) menjelaskan bahwa manusia memiliki kebutuhan mendasar untuk menjaga penerimaan sosial dan harga diri. Ancaman terhadap citra diri atau hubungan sosial dapat memicu respons defensif, salah satunya dengan menahan ekspresi diri. Dalam konteks ini, diam bukanlah ketiadaan respons, melainkan bentuk regulasi diri untuk meminimalkan risiko psikologis dan sosial.
Pengalaman masa lalu juga berperan penting dalam pembentukan coping passive. Individu yang pernah mengalami penolakan, kritik berlebihan, atau hukuman ketika menyuarakan pendapat cenderung belajar bahwa berbicara dapat membawa konsekuensi negatif. Bandura (1986) melalui teori social learning menjelaskan bahwa perilaku terbentuk melalui proses observasi dan pengalaman langsung terhadap konsekuensi. Jika diam pernah “berhasil” melindungi individu dari konflik atau rasa sakit emosional, strategi ini berpotensi diulang dan menjadi pola yang menetap.
Selain faktor pembelajaran, budaya turut memengaruhi bagaimana diam dimaknai dan digunakan. Dalam budaya kolektivistik, menjaga harmoni, menghormati hierarki, dan menahan ekspresi diri sering dianggap sebagai nilai positif. Diam dapat dipandang sebagai bentuk kedewasaan, pengendalian diri, atau penghormatan terhadap orang lain. Namun, ketika nilai budaya ini bertemu dengan tekanan psikologis individu, batas antara adaptasi sosial dan penekanan emosi yang merugikan menjadi semakin kabur.
Meskipun coping passive dapat bersifat adaptif dalam situasi tertentu, penggunaan yang berkepanjangan berpotensi menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan mental. Penelitian tentang regulasi emosi menunjukkan bahwa strategi penekanan emosi (expressive suppression) cenderung mengurangi ekspresi luar tanpa benar-benar mengurangi pengalaman emosi itu sendiri. Gross (1998) menyatakan bahwa penekanan emosi dalam jangka panjang berhubungan dengan peningkatan stres fisiologis, kelelahan emosional, serta menurunnya kualitas hubungan interpersonal.
Dalam konteks tekanan sosial yang kronis, diam yang terus-menerus dapat berkembang menjadi pola penghindaran yang maladaptif. Individu mungkin kesulitan mengenali dan mengekspresikan kebutuhannya, merasa tidak didengar, atau mengalami akumulasi emosi negatif yang tidak tersalurkan. Hal ini dapat berkontribusi pada munculnya kecemasan, depresi, atau perasaan tidak berdaya. Oleh karena itu, penting untuk membedakan antara diam sebagai strategi adaptif sementara dan diam sebagai bentuk keterbatasan psikologis yang membutuhkan perhatian.
Psikologi modern menekankan pentingnya memahami makna di balik diam, bukan sekadar menilainya sebagai perilaku pasif. Diam dapat menjadi sinyal adanya kebutuhan akan rasa aman, validasi, atau dukungan sosial. Dalam praktik asesmen dan intervensi psikologis, profesional diharapkan mampu membaca diam sebagai bentuk komunikasi non-verbal yang kaya makna. Pendekatan yang empatik membantu individu merasa cukup aman untuk secara perlahan mengeksplorasi pengalaman emosionalnya.
Intervensi psikologis tidak bertujuan menghilangkan coping passive secara mutlak, melainkan membantu individu mengembangkan fleksibilitas dalam menghadapi tekanan. Dengan meningkatkan kesadaran diri, keterampilan regulasi emosi, dan komunikasi asertif, individu dapat belajar memilih strategi coping yang paling sesuai dengan konteks. Diam tetap dapat digunakan sebagai bentuk refleksi dan pengendalian diri, tetapi tidak lagi menjadi satu-satunya cara bertahan.
Pada akhirnya, memahami diam sebagai strategi bertahan membantu kita melihat perilaku manusia dengan sudut pandang yang lebih manusiawi dan tidak menghakimi. Dalam dunia sosial yang penuh tuntutan dan ekspektasi, diam sering kali menjadi cara individu melindungi dirinya sebelum siap untuk bersuara. Dengan pemahaman psikologis yang lebih utuh, diam tidak lagi dipandang sebagai kelemahan, melainkan sebagai bagian dari dinamika coping yang layak dipahami, dihargai, dan ditangani secara bijaksana.
Biro psikologi Smile Consulting Indonesia menyediakan jasa psikotes untuk berbagai kebutuhan asesmen psikologi, baik untuk individu maupun perusahaan. Layanan kami dirancang untuk memberikan hasil yang akurat dan terpercaya.
Referensi:
Bandura, A. (1986). Social foundations of thought and action: A social cognitive theory. Englewood Cliffs, NJ: Prentice-Hall.
Gross, J. J. (1998). The emerging field of emotion regulation: An integrative review. Review of General Psychology, 2(3), 271–299.
Lazarus, R. S., & Folkman, S. (1984). Stress, appraisal, and coping. New York, NY: Springer.
Leary, M. R., & Kowalski, R. M. (1995). Social anxiety. New York, NY: Guilford Press.
Taylor, S. E. (2011). Social support: A review. In M. S. Friedman (Ed.), The Oxford handbook of health psychology. Oxford: Oxford University Press.