Pagi dimulai dengan klakson bersahutan, siang dikejar tenggat pekerjaan, malam diisi pikiran yang tak kunjung berhenti. Bagi banyak orang yang hidup di kota besar, stres bukan lagi situasi sesekali melainkan bagian dari rutinitas harian yang terasa “normal”, meski diam-diam menguras energi mental.
Stres sebagai Respons terhadap Tekanan Lingkungan
Dalam psikologi, stres dipahami sebagai respons individu terhadap tuntutan yang dianggap melebihi kemampuan diri. Lazarus dan Folkman (1984) menjelaskan melalui transactional model of stress bahwa stres muncul dari penilaian kognitif individu terhadap situasi (cognitive appraisal). Kemacetan, misalnya, bukan hanya kondisi fisik, tetapi juga dinilai sebagai ancaman terhadap waktu dan produktivitas, sehingga memicu stres.
Ketika situasi seperti ini terjadi berulang, tubuh dan pikiran terus berada dalam kondisi siaga, yang pada akhirnya meningkatkan kelelahan psikologis.
Deadline dan Tekanan Kinerja
Budaya kerja di kota besar seringkali identik dengan kecepatan dan target tinggi. Menurut penelitian oleh Sari dan Wulandari (2019), tekanan kerja (job demand) yang tinggi tanpa diimbangi sumber daya yang memadai dapat meningkatkan stres kerja secara signifikan. Model Job Demand-Resources ini menjelaskan bahwa beban kerja berlebih, seperti deadline yang menumpuk, dapat menguras energi mental dan emosional individu.
Akibatnya, individu lebih rentan mengalami kelelahan, mudah marah, hingga kehilangan motivasi.
Overthinking: Ketika Pikiran Tak Bisa Berhenti
Setelah tekanan eksternal mereda, muncul tantangan internal: overthinking. Nolen-Hoeksema (2000) menyebut fenomena ini sebagai rumination, yaitu kecenderungan memikirkan masalah secara berulang tanpa solusi yang jelas. Overthinking sering kali memperparah stres karena individu terjebak dalam siklus pikiran negatif.
Alih-alih menemukan jalan keluar, individu justru semakin tenggelam dalam kekhawatiran, memperbesar persepsi ancaman, dan menurunkan kesejahteraan psikologis.
Lingkaran Stres yang Sulit Diputus
Ketiga faktor kemacetan, deadline, dan overthinking saling berkaitan dan membentuk lingkaran stres. Penelitian oleh Putri dan Rahman (2021) menunjukkan bahwa stres perkotaan memiliki hubungan erat dengan penurunan kualitas hidup, terutama ketika individu tidak memiliki strategi coping yang efektif.
Tanpa pengelolaan yang tepat, stres kronis dapat berdampak pada kesehatan fisik maupun mental, seperti gangguan tidur, kecemasan, hingga burnout.
Kesimpulan
Stres warga kota bukan hanya disebabkan oleh satu faktor, melainkan kombinasi tekanan lingkungan, tuntutan pekerjaan, dan pola pikir yang berulang. Memahami bahwa stres adalah hasil interaksi antara situasi dan persepsi diri menjadi langkah awal untuk mengelolanya. Dengan strategi coping yang sehat, seperti manajemen waktu, relaksasi, dan membatasi overthinking, individu dapat keluar dari lingkaran stres dan menjalani hidup kota dengan lebih seimbang.
Sebagai biro psikologi terpercaya, Smile Consulting Indonesia adalah vendor psikotes yang juga menyediakan layanan psikotes online dengan standar profesional tinggi untuk mendukung keberhasilan asesmen Anda.
Daftar Pustaka:
Lazarus, R. S., & Folkman, S. (1984). Stress, appraisal, and coping. New York: Springer Publishing Company.
Nolen-Hoeksema, S. (2000). The role of rumination in depressive disorders and mixed anxiety/depressive symptoms. Journal of Abnormal Psychology, 109(3), 504–511. https://doi.org/10.1037/0021-843X.109.3.504
Putri, A. R., & Rahman, F. (2021). Stres perkotaan dan kualitas hidup masyarakat urban. Jurnal Psikologi Indonesia, 10(2), 120–130.
Sari, N. P., & Wulandari, D. A. (2019). Pengaruh job demand terhadap stres kerja pada karyawan perkotaan. Jurnal Psikologi Industri dan Organisasi, 8(1), 45–53.