Menemukan Keseimbangan antara Diri, Tujuan, dan Kehidupan
Kita sering mendengar nasihat untuk “bahagia,” seolah kebahagiaan adalah satu tujuan akhir yang harus dicapai. Tapi semakin kita berusaha mencapainya, semakin sulit rasanya menggenggamnya. Ada masa-masa di mana kita punya pekerjaan yang stabil, hubungan yang berjalan baik, tapi tetap merasa hampa. Seolah ada sesuatu yang kurang, tapi kita tak tahu apa.
Pertanyaan itu, tentang apa sebenarnya makna menjadi sejahtera secara psikologis, adalah hal yang coba dijawab oleh Carol Ryff, seorang psikolog yang mengusulkan bahwa hidup yang baik bukan hanya hidup yang bahagia, tapi juga hidup yang bermakna, tumbuh, dan selaras dengan diri sendiri.
Melalui Ryff’s Psychological Well-Being Scale, ia menjelaskan bahwa kesejahteraan bukan sekadar emosi positif, melainkan hasil dari hubungan yang sehat dengan diri, orang lain, dan kehidupan itu sendiri.
Enam Pilar Kesejahteraan Psikologis
Ryff menyebut ada enam dimensi utama yang membentuk kesejahteraan psikologis. Keenamnya bukan bagian yang terpisah, tapi saling memengaruhi seperti roda kehidupan batin kita.
Penerimaan Diri (Self-Acceptance)
Kesejahteraan berawal dari berdamai dengan diri sendiri. Bukan berarti puas tanpa ingin berubah, tapi mampu berkata: “Aku bisa mencintai diriku sambil terus belajar menjadi versi yang lebih baik.” Bagi banyak orang dewasa muda, ini bukan hal mudah. Kita tumbuh di lingkungan yang sering mengukur nilai diri dari prestasi dan pengakuan luar. Akibatnya, ketika gagal, kita merasa tak layak dicintai. Penerimaan diri berarti menyalakan kembali kasih terhadap diri, mengakui luka, menerima masa lalu, dan berhenti menunggu izin untuk merasa cukup.
Hubungan Positif dengan Orang Lain (Positive Relations with Others)
Tidak ada kesejahteraan tanpa koneksi. Manusia butuh merasa dilihat, didengar, dan diterima. Tapi hubungan yang sehat bukan hanya soal kehadiran orang lain, melainkan kualitasnya, apakah hubungan itu membuat kita berkembang atau justru melemahkan diri kita? Di era digital, di mana koneksi mudah tapi kedekatan emosional sulit, dimensi ini sering goyah. Banyak yang merasa kesepian meski punya ratusan teman online. Padahal kesejahteraan justru tumbuh dari hubungan yang memberi ruang bagi kejujuran, empati, dan pertumbuhan bersama.
Otonomi (Autonomy)
Otonomi bukan berarti hidup tanpa peduli pendapat orang lain, melainkan kemampuan untuk membuat keputusan berdasarkan nilai pribadi, bukan tekanan sosial. Dalam praktiknya, ini terlihat dari keberanian menolak hal yang tak sesuai hati, memilih karier karena makna, bukan semata gengsi, dan menegaskan batas tanpa rasa bersalah. Di usia dewasa muda, ketika dunia menuntut kita “punya semuanya,” otonomi menjadi dasar agar kita tidak kehilangan arah dalam hiruk-pikuk ekspektasi sosial.
Penguasaan Lingkungan (Environmental Mastery)
Hidup modern sering terasa seperti lomba tanpa garis akhir. Tugas menumpuk, waktu terbatas, dan tuntutan datang dari segala arah. Dimensi ini berbicara tentang bagaimana kita mampu menavigasi kehidupan tanpa kehilangan kendali, mengatur waktu, menata keseimbangan antara pekerjaan dan istirahat, serta membangun sistem yang mendukung keseharian. Bukan berarti hidup harus selalu rapi; yang penting, kita tahu bagaimana menata ulang ketika keadaan berantakan.
Tujuan Hidup (Purpose in Life)
Ini adalah jantung dari kesejahteraan. Banyak orang merasa “sibuk” tapi tidak “hidup.” Tujuan hidup membuat kita tahu mengapa kita bangun setiap pagi, bahkan di hari yang berat. Tapi tujuan hidup tidak harus besar. Kadang, makna ditemukan dalam hal sederhana, merawat keluarga, menolong orang lain, atau melakukan pekerjaan dengan sepenuh hati. Ryff menekankan bahwa tanpa rasa tujuan, hidup akan terasa datar, meski penuh kenyamanan.
Pertumbuhan Pribadi (Personal Growth)
Kita sering berpikir bahwa kesejahteraan adalah keadaan yang stabil. Padahal, ia justru tentang perubahan. Tentang berani menghadapi hal baru, gagal, belajar, dan berkembang. Orang dengan pertumbuhan pribadi yang tinggi terbuka pada pengalaman. Mereka tidak takut mengakui ketidaktahuan, karena tahu bahwa setiap pengalaman, baik atau buruk, adalah bahan bakar untuk bertumbuh.
Kesejahteraan di Tengah Krisis Identitas Dewasa Muda
Banyak orang di usia 20–30-an menghadapi apa yang disebut quarter-life crisis, fase ketika kita mempertanyakan:
“Apakah ini hidup yang aku mau?”
“Kenapa aku tidak merasa bahagia, padahal semua tampak baik-baik saja?”
Krisis ini sering kali muncul karena beberapa dimensi Ryff sedang “tidak seimbang.” Misalnya:
-
Ketika tujuan hidup kabur, kita kehilangan arah.
-
Ketika otonomi rendah, kita mudah terjebak hidup sesuai ekspektasi orang lain.
-
Ketika hubungan positif retak, rasa sepi muncul meski dikelilingi banyak orang.
Namun Ryff justru melihat krisis ini sebagai peluang pertumbuhan psikologis. Ia bukan tanda kegagalan, melainkan undangan untuk meninjau ulang: Apakah aku hidup selaras dengan nilai-nilaiku sendiri?
Melihat Kesejahteraan dari Berbagai Aspek Kehidupan
Kesejahteraan psikologis bukan sekadar urusan perasaan, tapi juga dipengaruhi oleh konteks kehidupan sehari-hari:
-
Dari aspek pekerjaan:
Orang dengan kesejahteraan tinggi tidak hanya bekerja demi gaji, tapi karena merasa pekerjaannya bermakna. Mereka memiliki sense of mastery, merasa mampu mengelola tugas dan tanggung jawab. -
Dari aspek relasi sosial:
Hubungan yang saling menghargai dan aman emosional menjadi pondasi bagi rasa damai batin. Sebaliknya, relasi yang penuh tekanan bisa meruntuhkan kepercayaan diri dan otonomi. -
Dari aspek spiritualitas dan makna hidup:
Bagi sebagian orang, kesejahteraan tidak terlepas dari hubungan dengan nilai spiritual, entah itu iman, rasa syukur, atau kesadaran bahwa hidup punya makna yang lebih besar dari diri sendiri. -
Dari aspek keseharian:
Hal sederhana seperti rutinitas tidur yang cukup, lingkungan yang mendukung, dan kemampuan menikmati hal kecil ternyata berkontribusi besar terhadap dimensi environmental mastery dan self-acceptance.
Ketika satu aspek goyah, kesejahteraan pun ikut terguncang. Tapi kabar baiknya: kesejahteraan psikologis bisa dibangun kembali, sedikit demi sedikit, melalui kesadaran, refleksi, dan perubahan kecil yang konsisten.
Menjadi Versi yang Lebih Selaras, Bukan Lebih Sempurna
Ryff tidak pernah mengatakan bahwa hidup sejahtera berarti hidup tanpa masalah. Justru sebaliknya: kesejahteraan muncul ketika kita mampu menemukan makna di tengah ketidaksempurnaan. Hidup yang sehat secara psikologis bukan hidup tanpa luka, tapi hidup yang mampu menjadikan luka sebagai ruang untuk tumbuh. Seperti halnya tanaman, kita tidak bisa selalu memaksa diri mekar. Ada masa bertumbuh, ada masa diam, ada masa layu sebentar sebelum tumbuh lagi. Dan semua fase itu adalah bagian dari kesejahteraan yang utuh.
Menutup dengan Kesadaran
Pada akhirnya, Ryff’s Psychological Well-Being Scale bukan sekadar alat ukur untuk penelitian, tapi jendela untuk mengenali diri. Ia mengingatkan kita bahwa bahagia bukan tujuan akhir, bahagia adalah hasil dari hidup yang dijalani dengan keutuhan: menerima diri, mencintai orang lain, menentukan arah, dan terus bertumbuh.
Mungkin, kesejahteraan psikologis tidak selalu berbentuk senyum lebar di foto, tapi terasa saat kita bisa berkata pelan pada diri sendiri:
“Aku mungkin belum sampai ke tempat yang aku inginkan, tapi aku sedang berjalan ke arah yang benar.”
Biro psikologi Smile Consulting Indonesia menyediakan jasa psikotes untuk berbagai kebutuhan asesmen psikologi, baik untuk individu maupun perusahaan. Layanan kami dirancang untuk memberikan hasil yang akurat dan terpercaya.
Referensi:
Ryff, C. D. (1989). Happiness is everything, or is it? Explorations on the meaning of psychological well-being. Journal of Personality and Social Psychology, 57(6), 1069–1081.
Ryff, C. D., & Keyes, C. L. M. (1995). The structure of psychological well-being revisited. Journal of Personality and Social Psychology, 69(4), 719–727.
Ryff, C. D. (2014). Psychological well-being revisited: Advances in the science and practice of eudaimonia. Psychotherapy and Psychosomatics, 83(1), 10–28.*