Ketika Dunia Nyata dan Dunia Maya Mulai Kabur
Pernahkah kamu membuka ponsel “hanya sebentar” untuk melihat notifikasi, lalu tiba-tiba sudah lewat satu jam? Atau merasa gelisah ketika tidak bisa mengakses media sosial, seolah ada sesuatu yang “hilang”? Fenomena ini bukan hal yang asing lagi. Di zaman sekarang, media sosial bukan hanya alat komunikasi, tapi juga ruang identitas, sumber hiburan, bahkan tempat mencari validasi.
Namun, di balik kemudahan dan keseruan itu, muncul pertanyaan penting: seberapa dalam sebenarnya keterikatan kita dengan dunia maya? Pertanyaan ini melahirkan sebuah alat ukur psikologis bernama Social Media Use Integration Scale (SMUIS), skala yang dirancang untuk memahami sejauh mana media sosial telah “menyatu” dengan kehidupan seseorang.
Apa itu SMUIS?
SMUIS dikembangkan oleh Jenkins-Guarnieri dan rekan-rekannya (2013) untuk menilai bukan hanya berapa lama seseorang menggunakan media sosial, tapi bagaimana media sosial itu menjadi bagian dari kehidupan psikologisnya. Skala ini tidak menilai “baik” atau “buruk,” melainkan menggali tingkat integrasi emosional dan kognitif seseorang terhadap media sosial.
Ada dua dimensi utama yang dinilai:
-
Integration into Social Routine, yaitu seberapa jauh media sosial sudah menjadi bagian dari rutinitas harian (misalnya, mengecek Instagram begitu bangun tidur).
-
Social Integration and Emotional Connection, yaitu seberapa kuat seseorang merasa terhubung secara emosional dengan media sosial, apakah ia merasa diakui, diterima, atau bahkan “hidupnya berarti” di sana.
Dengan kata lain, SMUIS bukan hanya menghitung waktu layar, tapi membaca hubungan emosional kita dengan layar itu sendiri.
Dari Keterlibatan ke Ketergantungan
Media sosial memang tidak diciptakan untuk membuat kita kecanduan, tapi ia dirancang agar sulit dilepaskan. Setiap like, komentar, atau pesan baru memicu sistem dopamin di otak, menciptakan sensasi kecil dari “penghargaan sosial.” Lama-kelamaan, otak belajar mengaitkan notifikasi dengan rasa senang, membuat kita ingin kembali, dan kembali lagi.
Di titik ini, batas antara keterlibatan dan ketergantungan mulai kabur.
Penelitian menunjukkan bahwa skor SMUIS yang tinggi sering berkorelasi dengan peningkatan stres, kecemasan sosial, dan penurunan kepuasan hidup. Mengapa? Karena keterikatan emosional pada media sosial bisa menimbulkan tekanan untuk terus terlihat aktif, relevan, dan diterima. Setiap unggahan orang lain menjadi cermin perbandingan; setiap jeda aktivitas terasa seperti kehilangan eksistensi.
Namun, penting untuk diingat: penggunaan media sosial tidak selalu buruk. Banyak orang menemukan dukungan sosial, inspirasi, dan peluang lewat dunia maya. Yang membedakan adalah seberapa sadar kita menggunakannya, dan apakah itu mendukung atau justru menggantikan kehidupan nyata.
Dampaknya terhadap Kesejahteraan Psikologis
Bagi banyak orang, media sosial menjadi ruang untuk mengekspresikan diri dan menjalin hubungan. Tapi ketika penggunaan tidak lagi seimbang, beberapa dampak psikologis mulai muncul:
Kecemasan sosial dan FOMO (Fear of Missing Out): Rasa takut tertinggal dari tren, kabar, atau kehidupan orang lain membuat kita terus memeriksa timeline.
Perbandingan sosial yang tidak sehat: Melihat kehidupan “sempurna” orang lain bisa memunculkan perasaan tidak cukup, bahkan depresi ringan.
Gangguan perhatian dan produktivitas: Otak terbiasa berpindah cepat dari satu notifikasi ke lainnya, menurunkan kemampuan fokus mendalam.
Kelelahan digital: Ironisnya, semakin terhubung secara digital, kita bisa merasa semakin kosong secara emosional.
Penelitian menunjukkan bahwa kesejahteraan psikologis cenderung meningkat saat seseorang mampu menetapkan batasan yang sehat, bukan dengan menghapus media sosial sepenuhnya, tapi dengan menata cara penggunaannya.
Mengenali Pola Diri Sendiri
SMUIS bisa menjadi “cermin” yang membantu kita menilai diri sendiri tanpa menghakimi. Misalnya, kamu bisa bertanya:
-
Apakah aku membuka media sosial untuk bersenang-senang, atau untuk menenangkan rasa cemas?
-
Apakah aku masih merasa berarti tanpa harus membagikan apa pun hari ini?
-
Apakah aku masih bisa menikmati momen tanpa memotret atau mempostingnya?
Pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti ini mengajak kita untuk memeriksa keseimbangan antara keterhubungan digital dan kehadiran nyata.
Belajar Menggunakan Media Sosial dengan Sadar
Jika kamu merasa sulit lepas dari ponsel, bukan berarti kamu lemah, itu berarti kamu manusia yang hidup di era hiper-koneksi. Yang bisa dilakukan bukanlah menghapus akun, tapi belajar kembali menjadi pengemudi, bukan penumpang dalam dunia maya.
Beberapa langkah kecil yang bisa membantu antara lain:
-
Menetapkan waktu tanpa layar (misalnya, satu jam sebelum tidur).
Menghapus notifikasi yang tidak penting. -
Mengikuti akun yang memberi energi positif, bukan kecemasan.
-
Menggunakan media sosial untuk berinteraksi, bukan hanya mengamati.
Penutup: Kembali ke Diri yang Nyata
Media sosial adalah jendela luar biasa untuk dunia, tapi jendela itu tidak seharusnya menggantikan cermin. Ketika kita terlalu lama memandang ke luar, kita bisa lupa melihat ke dalam. SMUIS mengingatkan kita bahwa keterhubungan digital adalah cermin dari keterhubungan psikologis: apakah kita memakai dunia maya untuk memperkaya hidup nyata, atau justru melarikan diri darinya?
Keseimbangan bukan tentang menolak teknologi, melainkan tentang tetap sadar bahwa like tidak sama dengan kasih, followers tidak selalu berarti kedekatan, dan validasi sejati datang dari dalam diri yang utuh, bukan dari layar yang terus menyala.
Biro psikologi Smile Consulting Indonesia menyediakan jasa psikotes untuk berbagai kebutuhan asesmen psikologi, baik untuk individu maupun perusahaan. Layanan kami dirancang untuk memberikan hasil yang akurat dan terpercaya.
Referensi:
Jenkins-Guarnieri, M. A., Wright, S. L., & Johnson, B. (2013). Development and validation of a Social Media Use Integration Scale (SMUIS). Psychology of Popular Media Culture, 2(1), 38–50.
Kuss, D. J., & Griffiths, M. D. (2017). Social Networking Sites and Addiction: Ten Lessons Learned. International Journal of Environmental Research and Public Health.
Bányai, F., Zsila, Á., Király, O., et al. (2017). Problematic social media use: Results from a large-scale nationally representative adolescent sample. PLoS ONE.