Memuat...
12 November 2025 10:55

Cermin yang Retak: Pengaruh Media dan Iklan terhadap Citra Tubuh Anak

Bagikan artikel

Dalam dunia yang dibanjiri gambar sempurna dan narasi visual tanpa cela, anak-anak kini tumbuh di bawah sorotan yang tak kasat mata: ekspektasi yang dibentuk media dan iklan terhadap tubuh mereka. Citra tubuh, yang dahulu berkembang secara alami melalui pengalaman dan interaksi sosial langsung, kini sebagian besar dibentuk oleh layar-layar digital yang tak pernah tidur. Mulai dari iklan televisi hingga konten media sosial, anak-anak terpapar standar kecantikan yang sempit dan tidak realistis seperti kulit mulus, tubuh langsing, tinggi ideal, dan wajah simetris.

 

Kondisi ini menimbulkan konsekuensi psikologis yang mendalam. Sebuah studi dari American Psychological Association (APA) menunjukkan bahwa anak-anak yang sering terpapar media visual dengan standar kecantikan tertentu lebih rentan mengalami body dissatisfaction sejak usia 8 tahun (Grabe, Ward, & Hyde, 2008). Ketidakpuasan terhadap tubuh sendiri bukanlah sekadar keluhan ringan, melainkan pintu masuk menuju gangguan citra tubuh, rendahnya kepercayaan diri, hingga potensi gangguan makan seperti anoreksia atau bulimia.

 

Iklan produk kecantikan anak dan pakaian remaja kerap kali memperkuat pola pikir bahwa tubuh yang menarik adalah tubuh yang sesuai standar pasar. Strategi pemasaran yang berorientasi pada ‘before-after’ atau pemanfaatan influencer anak yang sangat kurus dan modis mempertegas bahwa untuk menjadi diterima, anak-anak harus ‘berubah’. Padahal pada usia pertumbuhan, anak sedang dalam proses membangun identitas dan penerimaan diri. Ketika mereka melihat bahwa tubuh mereka tidak sesuai dengan gambaran yang terus dipromosikan oleh media, maka akan timbul penolakan terhadap tubuh sendiri.

 

Tak hanya itu, media sosial seperti Instagram dan TikTok semakin memperparah kondisi ini. Anak-anak dan remaja mulai membandingkan dirinya dengan konten yang sebenarnya telah melalui filter, editan, dan pencitraan strategis. Dalam jangka panjang, hal ini menyebabkan meningkatnya kecemasan sosial, perasaan tidak cukup baik, dan kecenderungan untuk menyembunyikan diri dari lingkungan sosial, baik secara fisik maupun emosional (Fardouly et al., 2015).

 

Ironisnya, banyak dari strategi media dan iklan ini justru dibalut dalam narasi positif, seperti kampanye “self-love” atau “healthy lifestyle”, padahal secara implisit tetap menekankan bahwa tubuh tertentu lebih layak dicintai atau dianggap sehat. Anak-anak menjadi bingung: apakah mereka harus menerima diri mereka apa adanya, atau terus berusaha mencapai tubuh yang dipromosikan media?

 

Pendidikan literasi media menjadi kunci untuk memutus siklus ini. Anak-anak perlu dibekali pemahaman kritis bahwa apa yang mereka lihat di media bukanlah representasi nyata dari tubuh manusia. Keluarga dan sekolah harus menjadi ruang yang aman untuk mendiskusikan perbedaan bentuk tubuh, menghargai keberagaman fisik, dan menekankan bahwa nilai diri tidak ditentukan dari penampilan semata.

 

Peran orang tua dalam membangun narasi yang sehat tentang tubuh juga tak kalah penting. Ketika orang tua ikut-ikutan mengomentari berat badan anak, memuji hanya saat anak terlihat “kurus”, atau turut membandingkan penampilan anak dengan standar luar, maka mereka tanpa sadar sedang memperkuat bias media. Sebaliknya, pendekatan yang menekankan fungsi tubuh (misalnya: “kamu hebat karena tubuhmu kuat bersepeda ke sekolah”) jauh lebih berdampak positif daripada sekadar pujian penampilan.

 

Dunia iklan dan media mungkin tak bisa dikendalikan sepenuhnya, tetapi daya tahan mental anak terhadap pesan-pesan itu bisa dibentuk. Dengan memperkuat lingkungan sosial yang mendukung, memperkenalkan nilai-nilai keunikan pribadi, serta membiasakan anak untuk mengenali dan mencintai tubuhnya berdasarkan fungsinya, bukan bentuknya, maka anak-anak akan tumbuh dengan citra diri yang lebih sehat dan realistis. Biro psikologi Smile Consulting Indonesia menyediakan jasa psikotes untuk berbagai kebutuhan asesmen psikologi, baik untuk individu maupun perusahaan. Layanan kami dirancang untuk memberikan hasil yang akurat dan terpercaya.

 

Referensi:

Grabe, S., Ward, L. M., & Hyde, J. S. (2008). The role of the media in body image concerns among women: A meta-analysis of experimental and correlational studies. Psychological Bulletin, 134(3), 460–476. https://doi.org/10.1037/0033-2909.134.3.460

Fardouly, J., Diedrichs, P. C., Vartanian, L. R., & Halliwell, E. (2015). Social comparisons on social media: The impact of Facebook on young women's body image concerns and mood. Body Image, 13, 38–45. https://doi.org/10.1016/j.bodyim.2014.12.002

Bagikan