Memuat...
13 November 2025 15:22

Di Tengah Cancel Culture : Ketika Takut Salah Membungkam Diri Sendiri

Bagikan artikel

Di era digital saat ini, budaya “cancel” telah menjadi salah satu fenomena sosial paling mencolok. Dikenal sebagai cancel culture, praktik ini muncul sebagai bentuk sanksi sosial terhadap individu atau kelompok yang dianggap melakukan kesalahan, baik itu pernyataan kontroversial, perilaku masa lalu, atau pandangan yang tidak sejalan dengan opini mayoritas. Namun, di balik semangat “pertanggungjawaban publik”, cancel culture juga menimbulkan dampak psikologis yang tidak bisa diabaikan, terutama dalam hal kesehatan mental dan kecenderungan self-censorship (menyensor diri sendiri).

 

Cancel Culture dan Tekanan Sosial Baru

Awalnya, cancel culture lahir dari semangat untuk menuntut akuntabilitas, terutama dari tokoh publik yang memiliki pengaruh besar. Namun, seiring berkembangnya media sosial, kekuatan kolektif ini bergeser menjadi alat penilaian massal yang cepat, keras, dan tidak selalu adil. Tidak sedikit orang yang “diboikot” atau diserang secara daring bukan karena pelanggaran berat, tetapi karena opini yang kurang populer atau kesalahan yang dilakukan bertahun-tahun lalu. Konsekuensinya bisa serius, mulai dari kehilangan pekerjaan, isolasi sosial, hingga tekanan psikologis berat.

 

Fenomena ini membuat banyak orang merasa harus terus waspada dalam berbicara, bahkan dalam lingkungan pribadi. Kalimat yang tidak sengaja disalahartikan bisa langsung viral, menyebabkan kecemasan akan kemungkinan dibatalkan, dijauhi, atau diserang secara publik. Hal ini menciptakan budaya “diam”, di mana seseorang menahan diri untuk mengemukakan opini karena takut salah langkah.

 

Self-Censorship: Menyensor Diri Demi Rasa Aman

Salah satu dampak nyata dari cancel culture adalah meningkatnya praktik self-censorship. Individu mulai menyembunyikan pemikiran mereka, bukan karena tidak punya pendapat, tetapi karena takut disalahpahami. Terutama bagi generasi muda yang sangat aktif di media sosial, tekanan ini sangat kuat. Mereka tumbuh dalam lingkungan yang menuntut kesempurnaan etika di ranah publik, sehingga risiko “salah bicara” terasa begitu besar.

 

American Psychological Association (2020) mencatat bahwa bentuk-bentuk pengawasan sosial yang intens dapat mendorong individu untuk mengalami stres kronis, kecemasan, dan bahkan depresi. Ketika seseorang merasa tak punya ruang untuk mengekspresikan diri secara autentik, harga dirinya tergerus. Dalam jangka panjang, ini bisa menciptakan masyarakat yang semakin enggan berdialog secara terbuka dan sehat.

 

Tekanan Psikologis dan Ketakutan Akan Penghakiman

Dalam konteks kesehatan mental, cancel culture bisa menjadi pemicu gangguan psikologis, terutama bila individu menjadi target serangan. Menurut studi dari Journal of Communication (Ng, 2022), korban cancel culture cenderung mengalami penurunan kepercayaan diri, gangguan tidur, dan kecenderungan menarik diri dari lingkungan sosial. Bahkan, individu yang tidak pernah menjadi target pun dapat mengalami trauma tidak langsung hanya dengan menyaksikan serangan terhadap orang lain di media sosial.

 

Ketakutan akan penghakiman juga menyebabkan individu lebih mudah merasa cemas, terjebak dalam pola pikir “harus sempurna”, dan terus-menerus menilai setiap kata yang diucapkan. Ini tidak hanya melelahkan secara emosional, tapi juga membatasi perkembangan pribadi dan interaksi yang jujur di masyarakat.

 

Membangun Budaya yang Lebih Berempati

Cancel culture mungkin tidak akan hilang dalam waktu dekat, tetapi kita bisa mendorong budaya yang lebih sehat. Alih-alih menghakimi dengan cepat, kita bisa membangun ruang diskusi yang terbuka, menghargai proses belajar, dan memberi ruang bagi orang untuk bertumbuh dari kesalahan. Edukasi tentang literasi digital, empati, dan keterampilan komunikasi non-kekerasan juga penting agar publik bisa menyalurkan kritik secara konstruktif, bukan destruktif. Sikap saling memaafkan dan memahami bahwa setiap individu bisa berubah adalah kunci dalam membangun masyarakat yang sehat mental dan sosial. Ini bukan berarti membenarkan kesalahan, tetapi menempatkan koreksi sosial dalam konteks yang membangun. Sebagai biro psikologi terpercaya, Smile Consulting Indonesia adalah vendor psikotes yang juga menyediakan layanan psikotes online dengan standar profesional tinggi untuk mendukung keberhasilan asesmen Anda.

 

Referensi:

Ng, Eve. (2022). No Grand Pronouncements Here…: Reflections on Cancel Culture and Digital Media Participation. Journal of Communication Inquiry, 46(3–4), 261–279. https://doi.org/10.1177/01968599221088999

American Psychological Association. (2020). The Psychological Impact of Cancel Culture. https://www.apa.org/news/press/releases

Wansink, B., & Wansink, C. S. (2021). Fear of public judgment and the rise of self-censorship in social media. Journal of Media Psychology.

 

Bagikan