Di tengah gemerlap lampu kota, hiruk-pikuk kendaraan, dan padatnya interaksi sosial, ada paradoks yang diam-diam dialami banyak orang: merasa sendiri di tengah keramaian. Fenomena ini bukan sekadar perasaan sesaat, melainkan realitas psikologis yang semakin sering muncul di kehidupan urban modern.
Ramai Secara Fisik, Sepi Secara Emosional
Kesepian dalam psikologi tidak selalu berarti tidak memiliki teman. Menurut Russell (1984), kesepian adalah persepsi subjektif tentang kurangnya kualitas atau kuantitas hubungan sosial. Artinya, seseorang bisa dikelilingi banyak orang, tetapi tetap merasa tidak terhubung secara emosional.
Di kota besar, interaksi sering kali bersifat superfisial sebatas profesional atau transaksional. Hal ini membuat kebutuhan akan kedekatan emosional tidak terpenuhi, sehingga memicu apa yang disebut sebagai emotional loneliness.
Tekanan Adaptasi dan Individualisme Kota
Lingkungan urban menuntut individu untuk mandiri, cepat beradaptasi, dan kompetitif. Penelitian tentang penyesuaian sosial menunjukkan bahwa kesulitan dalam beradaptasi dengan lingkungan baru berkorelasi dengan meningkatnya kesepian (Harjanto et al., 2022) .
Banyak orang di kota besar adalah perantau yang jauh dari keluarga dan sistem dukungan sosial. Proses adaptasi ini seringkali memicu perasaan terisolasi, terutama ketika individu belum menemukan “ruang aman” secara sosial.
Psychological Well-Being yang Menurun
Kesepian juga berkaitan erat dengan rendahnya psychological well-being. Penelitian oleh Simanjuntak et al. (2020) menemukan bahwa dimensi seperti relasi positif, penerimaan diri, dan penguasaan lingkungan berperan besar dalam menurunkan tingkat kesepian .
Di kota besar, tekanan kerja, waktu yang terbatas, dan gaya hidup cepat sering menghambat individu untuk membangun relasi yang bermakna. Akibatnya, kesejahteraan psikologis menurun dan kesepian meningkat.
Urban Loneliness: Fenomena Nyata di Kota
Konsep urban loneliness menggambarkan bagaimana lingkungan kota justru dapat memperkuat rasa sepi. Penelitian Dananjaya & Pradifta (2023) menunjukkan bahwa meskipun ruang publik tersedia, tidak semua orang mampu memanfaatkannya untuk membangun koneksi sosial .
Hal ini menunjukkan bahwa keberadaan orang lain tidak otomatis menciptakan kedekatan. Yang dibutuhkan adalah kualitas interaksi, bukan sekadar kuantitas.
Kesimpulan
Kesepian di kota besar adalah hasil dari kombinasi berbagai faktor: hubungan sosial yang dangkal, tekanan adaptasi, serta menurunnya kesejahteraan psikologis. Di balik keramaian, banyak individu kehilangan koneksi emosional yang autentik. Oleh karena itu, penting untuk tidak hanya “hadir” di tengah orang lain, tetapi juga membangun hubungan yang bermakna dan mendalam sebagai kebutuhan dasar manusia.
Biro psikologi Smile Consulting Indonesia dikenal sebagai pusat asesmen Indonesia yang memberikan berbagai layanan, termasuk jasa psikotes dan asesmen individu, dengan proses yang efisien dan hasil mendalam.
Daftar Pustaka:
Dananjaya, H. A. S., & Pradifta, F. S. (2023). Identifikasi urban loneliness pada pengunjung Kiara Artha Park. Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota, 3(2). https://doi.org/10.29313/jrpwk.v3i2.2763
Harjanto, A. P., Sukiatni, D. S., & Kusumandari, R. (2022). Kesepian pada mahasiswa: Peran social adjustment dan pet attachment. JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia, 1(1). https://doi.org/10.30996/jiwa.v1i1.9802
Russell, D., Cutrona, C. E., Rose, J., & Yurko, K. (1984). Social and emotional loneliness: An examination of Weiss’s typology of loneliness. Journal of Personality and Social Psychology.
Simanjuntak, J. G. L., Prasetio, C. E., Tanjung, F. Y., & Triwahyuni, A. (2020). Psychological well-being sebagai prediktor tingkat kesepian mahasiswa. Jurnal Psikologi Teori dan Terapan, 11(2), 158–175. https://doi.org/10.26740/jptt.v11n2.p158-175