Memuat...
19 December 2025 10:02

Love Attitudes Scale: Menyelami Pola Cinta dan Psikologi Kita

Bagikan artikel

Pernah nggak kamu bertanya-tanya kenapa seseorang bisa begitu mudah jatuh cinta sementara orang lain lebih hati-hati, atau kenapa beberapa hubungan terasa hangat tapi menegangkan sekaligus? Psikologi punya jawabannya, lewat Love Attitudes Scale (LAS), alat yang menilai gaya cinta seseorang dan membantu kita memahami pola emosional yang tersembunyi di balik cara kita mencintai.

Diciptakan oleh psikolog Hendrick dan Hendrick, LAS mengidentifikasi enam gaya cinta: Eros, Ludus, Storge, Pragma, Mania, dan Agape. Setiap gaya tidak hanya mencerminkan preferensi romantis, tapi juga berkaitan dengan aspek psikologis lain, seperti regulasi emosi, kepribadian, dan kesejahteraan mental.

 

Eros – Cinta yang Bergairah dan Intens

Orang dengan Eros merasakan cinta secara mendalam. Mereka cenderung memiliki kecenderungan neurotik sedang, artinya sangat sensitif terhadap penolakan atau ketidakhadiran pasangan. Dari perspektif psikologi, Eros mengajarkan kita tentang intensitas emosi dan keterikatan, serta bagaimana gairah bisa meningkatkan kepuasan hubungan jika disertai komunikasi sehat. Namun, Eros yang tidak mampu mengatur ekspektasi bisa mengalami stres atau kecemasan dalam hubungan.

 

Ludus – Cinta Santai dan Main-main


Ludus adalah cinta yang lebih fleksibel, ringan, dan terkadang tidak terlalu mengikat. Dari sisi psikologis, mereka cenderung menghindari attachment yang terlalu kuat dan lebih mengutamakan kesenangan serta eksplorasi. Ludus bisa melatih kita untuk mengenali perbedaan antara cinta sebagai permainan dan cinta yang serius. Namun, tanpa kesadaran diri, gaya ini bisa menimbulkan konflik emosional dengan pasangan yang menginginkan kedekatan intens.

 

Storge – Cinta Persahabatan dan Stabil


Storge tumbuh dari rasa aman dan persahabatan. Orang dengan Storge biasanya memiliki stabilitas emosi tinggi dan kemampuan empati yang kuat, sehingga mampu memahami kebutuhan pasangan. Dari aspek psikologi perkembangan, Storge menekankan pentingnya attachment style aman, di mana kedekatan emosional dibangun secara bertahap, menciptakan hubungan yang tahan lama.

 

Pragma – Cinta Realistis dan Rasional


Pragma menekankan kompatibilitas dan logika dalam memilih pasangan. Secara psikologis, ini berkaitan dengan kecenderungan kognitif analitis dan regulasi emosi yang baik, karena keputusan didasari pertimbangan jangka panjang, bukan impuls atau gairah sesaat. Pragma bisa mengurangi konflik, tapi juga perlu diimbangi dengan ekspresi afeksi agar hubungan tidak terlalu “dingin.”

 

Mania – Cinta Posesif dan Intens


Mania dicirikan oleh kecemasan dan ketergantungan emosional. Secara psikologis, gaya ini erat kaitannya dengan attachment style cemas dan regulasi emosi yang rendah, sehingga individu sering merasa takut ditinggalkan atau cemburu. Dampaknya, hubungan bisa menjadi penuh konflik emosional, tapi Mania juga menunjukkan betapa manusia bisa begitu terdorong untuk merasa dicintai dan diterima.

 

Agape – Cinta Altruistik dan Tanpa Pamrih


Agape adalah cinta yang memberi tanpa mengharapkan balasan. Dari sisi psikologis, gaya ini terkait dengan stabilitas emosi, empati tinggi, dan kecenderungan prososial. Individu Agape mampu mendukung pasangan dalam kondisi sulit, meningkatkan kepuasan hubungan, sekaligus meningkatkan kesejahteraan psikologis pribadi karena mereka menemukan makna dalam memberi.

 

Mengapa Memahami Pola Cinta Itu Penting?


Mengenal gaya cinta sendiri membantu kita memahami bagaimana kepribadian, regulasi emosi, attachment style, dan pola coping memengaruhi hubungan. Misalnya:

  • Seseorang Eros dengan kecenderungan neurotik tinggi mungkin perlu belajar strategi regulasi emosi agar tidak cemas berlebihan.

  • Ludus yang santai bisa menyeimbangkan intensitas hubungan dengan Storge yang stabil, asalkan ada komunikasi yang jelas.

  • Pragma bisa membantu pasangan mengatasi konflik praktis, tapi harus disertai empati agar hubungan tetap hangat.

Selain itu, LAS juga relevan dalam konteks kesejahteraan psikologis. Pola cinta yang sesuai dengan kepribadian dan regulasi emosi individu cenderung meningkatkan kepuasan hubungan, mengurangi stres, dan menumbuhkan empati, sementara ketidaksesuaian bisa menjadi sumber konflik atau frustrasi.

 

Cinta Bukan Hanya Perasaan, Tapi Juga Psikologi


Menyadari gaya cinta membantu kita lebih bijak dalam membangun dan mempertahankan hubungan. Kita belajar mengelola ekspektasi, menyeimbangkan intensitas emosional, dan memahami pasangan dari perspektif psikologis. Dengan LAS, cinta tidak lagi misterius, ia menjadi peta yang memandu kita memahami diri sendiri dan orang lain, dari gairah hingga pengorbanan.

 

Biro psikologi Smile Consulting Indonesia menyediakan jasa psikotes untuk berbagai kebutuhan asesmen psikologi, baik untuk individu maupun perusahaan. Layanan kami dirancang untuk memberikan hasil yang akurat dan terpercaya.


Referensi:

Hendrick, S. S., & Hendrick, C. (1986). A theory and method of love. Journal of Personality and Social Psychology, 50(2), 392–402.

Hendrick, S. S., & Hendrick, C. (1992). Romantic love. Journal of Personality and Social Psychology, 63(2), 231–242.

Acker, M. G., & Davis, M. H. (1992). Intimacy, passion, and commitment in adult romantic relationships: A test of the triangular theory of love. Journal of Personality and Social Psychology, 63(2), 226–234.

Feeney, B. C., & Noller, P. (1990). Attachment style as a predictor of adult romantic relationships. Journal of Personality and Social Psychology, 58(2), 281–291.

Sprecher, S., & Metts, S. (1999). Development of the “Romantic Beliefs Scale” and examination of the effects of gender and experience. Journal of Social and Personal Relationships, 16(3), 341–362.

 

Bagikan