Pernahkah Anda merasa bangun tidur dengan perasaan "mendung", lesu, atau kurang bersemangat? Sebelum mencari solusi yang rumit, cobalah untuk sekadar memakai sepatu dan melangkah keluar rumah selama 15 menit. Aktivitas sederhana berupa jalan kaki di pagi hari bukan hanya soal kesehatan fisik, tetapi merupakan intervensi psikologi alami yang sangat kuat. Secara ilmiah, paparan sinar matahari pagi yang mengenai retina mata akan mengirimkan sinyal ke otak untuk memproduksi serotonin, zat kimia saraf yang berfungsi sebagai pengatur suasana hati. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Lambert dkk. (2002), tingkat serotonin di otak berhubungan langsung dengan durasi paparan sinar matahari. Serotonin inilah yang membantu mengatur suasana hati agar tetap stabil dan mencegah perasaan sedih yang berlarut-larut. Semakin tinggi paparan cahaya yang diterima, semakin tinggi pula produksi serotonin yang membantu mencegah gejala depresi.
Lebih jauh lagi, jalan kaki pagi berfungsi sebagai regulator alami bagi ritme sirkadian atau jam biologis tubuh kita. Ketika kita terpapar cahaya terang di pagi hari, tubuh akan menekan produksi melatonin (hormon tidur) dan menggantinya dengan kortisol dalam jumlah yang sehat untuk memberikan energi. Paparan cahaya terang di pagi hari dapat membuat tubuh akan mengatur ulang waktu produksi hormon. Wirz-Justice dkk. (2004) dalam studinya mengenai light therapy menjelaskan bahwa paparan cahaya pagi yang konsisten efektif dalam memperbaiki gangguan suasana hati musiman dan depresi non-musiman karena mampu menyeimbangkan ritme biologis yang kacau. Anda dapat membayangkan tubuh Anda layaknya sebuah jam dinding yang baterainya mulai melemah. Kemudian berjalan kaki di bawah sinar matahari merupakan cara "mengisi ulang" baterai tersebut agar detak emosi Anda kembali sinkron dan tidak mudah terperosok ke dalam pikiran negatif yang berulang (rumination).
Secara psikologis, aktivitas ini juga memberikan perasaan mampu atau self-efficacy. Berdasarkan tinjauan literatur oleh Mammen dan Faulkner (2013), aktivitas fisik intensitas ringan seperti jalan kaki, jika dilakukan secara rutin, memiliki peran krusial dalam pencegahan depresi jangka panjang. Saat Anda berhasil menyelesaikan jalan kaki 15 menit, otak mencatatnya sebagai sebuah "kemenangan kecil" (small win). Hal ini memicu pelepasan endorfin, yaitu pereda nyeri alami tubuh yang menciptakan efek relaksasi dan euforia ringan. Misalnya, jika Anda sedang stres menghadapi tumpukan pekerjaan, jalan kaki sejenak memberikan jarak emosional antara Anda dan masalah tersebut. Jarak ini memungkinkan otak beralih dari mode "bertahan hidup" (stres) ke mode "berpikir jernih". Dengan rutin melakukannya, Anda sebenarnya sedang membangun perisai mental yang kuat, membuktikan bahwa langkah kecil yang konsisten jauh lebih efektif daripada perubahan besar yang hanya dilakukan sesekali.
Biro psikologi Smile Consulting Indonesia menyediakan jasa psikotes untuk berbagai kebutuhan asesmen psikologi, baik untuk individu maupun perusahaan. Layanan kami dirancang untuk memberikan hasil yang akurat dan terpercaya.
Referensi
Lambert, G. W., Reid, C., Kaye, D. M., Jennings, G. L., & Esler, M. D. (2002). Effect of sunlight and season on serotonin turnover in the brain. The Lancet, 360(9348), 1840-1842. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(02)11737-5
Mammen, G., & Faulkner, G. (2013). Physical activity and the prevention of depression: A systematic review of prospective studies. American Journal of Preventive Medicine, 45(5), 649-657. https://doi.org/10.1016/j.amepre.2013.08.001
Wirz-Justice, A., Benedetti, F., Berger, M., Cole, M. G., Wislowska-Stanek, A., Terman, M., & Terman, J. S. (2004). Light therapy in non-seasonal depression: Is it next to be implemented in the clinic? Ernst Schering Research Foundation Workshop, (48), 213-228. https://doi.org/10.1007/3-540-31301-8_12