Rasa aman sering dianggap sebagai sesuatu yang otomatis hadir selama seseorang tidak berada dalam bahaya fisik. Namun dalam realitas psikologis, banyak individu yang tetap merasa cemas, waspada berlebihan, atau tidak nyaman meskipun berada di lingkungan yang secara objektif aman. Fenomena ini menunjukkan bahwa rasa aman bukan hanya persoalan situasi eksternal, tetapi juga pengalaman psikologis yang dibentuk oleh berbagai faktor internal dan sosial.
Rasa Aman sebagai Kebutuhan Psikologis Dasar
Dalam teori hierarki kebutuhan Maslow (1943), rasa aman ditempatkan sebagai kebutuhan fundamental setelah kebutuhan fisiologis. Rasa aman mencakup perlindungan dari ancaman fisik, stabilitas emosional, kepastian, dan keteraturan. Ketika kebutuhan ini tidak terpenuhi, individu akan kesulitan mengembangkan potensi diri secara optimal.
Namun, rasa aman tidak selalu hadir hanya karena lingkungan tampak stabil. Keamanan psikologis bersifat subjektif dan sangat dipengaruhi oleh persepsi individu. Dua orang yang berada dalam situasi yang sama dapat merasakan tingkat keamanan yang sangat berbeda, tergantung pada pengalaman hidup, kondisi emosional, dan cara memaknai lingkungan.
Hal ini menjelaskan mengapa rasa aman dapat terasa rapuh, bahkan dalam konteks yang tampaknya normal dan tidak berbahaya.
Pengalaman Masa Lalu dan Jejak Emosional yang Tertinggal
Pengalaman masa lalu, terutama yang berkaitan dengan relasi, pengasuhan, atau peristiwa traumatis, memiliki peran besar dalam membentuk rasa aman. Teori attachment menjelaskan bahwa individu yang tumbuh dalam lingkungan yang tidak konsisten, penuh kritik, atau minim dukungan emosional cenderung mengembangkan rasa aman yang rapuh (Bowlby, 1988).
Jejak emosional dari pengalaman tersebut dapat muncul kembali dalam bentuk kewaspadaan berlebihan, ketakutan akan penolakan, atau kesulitan mempercayai orang lain. Meskipun ancaman nyata tidak lagi ada, sistem psikologis individu tetap bereaksi seolah-olah bahaya bisa muncul kapan saja.
Dengan demikian, rasa tidak aman sering kali bukan reaksi terhadap situasi saat ini, melainkan respons terhadap pengalaman yang belum sepenuhnya terproses.
Lingkungan Sosial yang Tidak Selalu Memberi Rasa Aman
Lingkungan sosial sehari-hari seperti tempat kerja, sekolah, atau komunitas tidak selalu mendukung terbentuknya rasa aman psikologis. Tekanan sosial, tuntutan performa, komunikasi yang tidak empatik, serta budaya saling membandingkan dapat membuat individu merasa terus dinilai.
Edmondson (1999) memperkenalkan konsep psychological safety, yaitu kondisi di mana individu merasa aman untuk mengekspresikan diri tanpa takut dipermalukan atau dihukum. Ketika lingkungan gagal menyediakan keamanan psikologis ini, individu cenderung menahan diri, bersikap defensif, dan mengalami kecemasan sosial.
Dalam konteks ini, rasa aman menjadi rapuh karena lingkungan tidak memberi sinyal bahwa individu diterima apa adanya.
Peran Sistem Saraf dalam Merasa Aman atau Terancam
Dari perspektif neuropsikologi, rasa aman berkaitan erat dengan cara sistem saraf merespons lingkungan. Teori polyvagal yang dikemukakan oleh Porges (2011) menjelaskan bahwa tubuh manusia secara otomatis memindai lingkungan untuk mendeteksi tanda aman atau bahaya.
Individu yang sering mengalami stres kronis atau tekanan emosional cenderung memiliki sistem saraf yang lebih sensitif terhadap ancaman. Akibatnya, tubuh mudah masuk ke mode bertahan seperti fight, flight, atau freeze meskipun tidak ada bahaya nyata.
Kondisi ini membuat rasa aman sulit dirasakan secara konsisten, karena tubuh dan pikiran terus berada dalam keadaan siaga.
Rasa Aman sebagai Proses, Bukan Kondisi Permanen
Penting untuk memahami bahwa rasa aman bukanlah kondisi statis yang sekali tercapai akan bertahan selamanya. Ia merupakan proses dinamis yang dipengaruhi oleh relasi, lingkungan, dan kemampuan individu dalam mengelola emosi.
Menurut Herman (1992), pemulihan rasa aman terutama setelah pengalaman stres atau trauma memerlukan proses bertahap yang melibatkan kesadaran diri, regulasi emosi, serta dukungan sosial. Rasa aman dibangun melalui pengalaman-pengalaman kecil yang konsisten, bukan melalui perubahan instan.
Dengan perspektif ini, rasa aman yang rapuh bukanlah tanda kelemahan pribadi, melainkan sinyal bahwa individu sedang berada dalam proses adaptasi psikologis.
Penutup
Kesulitan merasa “cukup aman” dalam kehidupan sehari-hari bukanlah hal yang jarang terjadi. Rasa aman dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu, dinamika lingkungan sosial, serta respons biologis tubuh terhadap stres. Ketika dipahami secara psikologis, rasa aman yang rapuh bukan sesuatu yang harus disangkal, melainkan dipahami dan dirawat.
Dengan pendekatan yang lebih empatik dan reflektif, individu dapat mulai membangun kembali rasa aman secara perlahan baik melalui relasi yang sehat, lingkungan yang supportif, maupun penguatan regulasi emosi diri.
Sebagai biro psikologi terpercaya, Smile Consulting Indonesia adalah vendor psikotes yang juga menyediakan layanan psikotes online dengan standar profesional tinggi untuk mendukung keberhasilan asesmen Anda.
Referensi:
Bowlby, J. (1988). A secure base: Parent-child attachment and healthy human development. New York: Basic Books.
Edmondson, A. (1999). Psychological safety and learning behavior in work teams. Administrative Science Quarterly, 44(2), 350–383.
Herman, J. L. (1992). Trauma and recovery. New York: Basic Books.
Maslow, A. H. (1943). A theory of human motivation. Psychological Review, 50 (4), 370–396.
Porges, S. W. (2011). The polyvagal theory: Neurophysiological foundations of emotions, attachment, communication, and self-regulation. New York: W. W. Norton & Company.