Memuat...
18 February 2026 11:04

Antara Ambisi dan Kelelahan: Psikologi Perfeksionisme Tersembunyi

Bagikan artikel

Perfeksionisme seringkali dipersepsikan sebagai sikap positif: berorientasi pada kualitas, target tinggi, dan keinginan untuk memberikan hasil terbaik. Namun di balik ambisi tersebut, perfeksionisme juga dapat menjadi sumber kelelahan psikologis yang tersembunyi. Banyak individu tidak menyadari bahwa dorongan untuk “harus sempurna” justru membuat mereka terus berada dalam tekanan internal yang melelahkan.

 

Perfeksionisme yang Tidak Selalu Terlihat

Tidak semua perfeksionisme tampak dalam bentuk tuntutan ekstrem atau obsesi pada detail. Pada banyak orang, perfeksionisme muncul secara halus, seperti rasa tidak pernah cukup puas, sulit menikmati pencapaian, atau selalu merasa bisa melakukan lebih baik. Pola ini sering tersembunyi di balik citra individu yang terlihat kompeten dan berprestasi. Perfeksionisme tersembunyi ditandai oleh standar pribadi yang sangat tinggi dan kaku. Ketika standar ini tidak tercapai, individu cenderung menyalahkan diri sendiri secara berlebihan. Tekanan internal ini berbeda dengan tuntutan eksternal, karena berasal dari dialog batin yang terus-menerus mengkritik dan menuntut kesempurnaan.

 

Ambisi sebagai Identitas Diri

Bagi sebagian orang, ambisi dan pencapaian menjadi bagian penting dari identitas diri. Nilai diri sering diukur dari performa, hasil, dan pengakuan. Dalam kondisi ini, kegagalan kecil pun dapat dirasakan sebagai ancaman terhadap harga diri, sehingga individu sulit memberi ruang untuk kesalahan atau proses belajar.

 

Kelelahan Emosional yang Terakumulasi

Perfeksionisme yang tidak disadari dapat menyebabkan kelelahan emosional kronis. Individu tetap berfungsi secara produktif, tetapi mengalami kelelahan mental, penurunan motivasi, dan kehilangan makna dalam aktivitas yang dijalani. Karena kelelahan ini berkembang perlahan, sering kali baru disadari ketika dampaknya sudah cukup berat.

 

Menggeser Fokus dari Sempurna ke Seimbang

Memahami perfeksionisme tersembunyi bukan berarti menghilangkan ambisi, melainkan menggeser fokus dari tuntutan sempurna menuju keseimbangan psikologis. Proses ini melibatkan refleksi terhadap standar diri, cara memaknai kesalahan, serta kemampuan menerima keterbatasan sebagai bagian dari pengalaman manusiawi.

Melalui layanan asesmen psikologi yang disediakan oleh Biro Psikologi Smile Consulting Indonesia, individu dapat memperoleh gambaran yang lebih objektif mengenai pola kepribadian, dinamika motivasi, serta sumber tekanan psikologis yang dialami, sehingga proses pengembangan diri dapat dilakukan secara lebih sehat dan terarah.

 

 

Referensi:

Flett, G. L., & Hewitt, P. L. (2002). Perfectionism and maladjustment: An overview of theoretical, definitional, and treatment issues. American Psychological Association.

Hill, R. W., Huelsman, T. J., & Araujo, F. (2010). Perfectionism and burnout in professionals. Personality and Individual Differences, 48 (4), 425–430.

Shafran, R., Cooper, Z., & Fairburn, C. G. (2002). Clinical perfectionism: A cognitive-behavioural analysis. Behaviour Research and Therapy, 40 (7), 773–791.

Bagikan