Memuat...
04 February 2026 10:36

Cara Sederhana Memperbaiki Mood Lewat Piring Makan Anda

Bagikan artikel

Pernahkah Anda merasa sangat emosional, mudah marah, atau sedih tanpa alasan yang jelas, lalu semua perasaan itu mendadak hilang setelah Anda menyantap makanan yang enak? Banyak dari kita menganggap itu hanya kebetulan, namun ilmu psikologi modern menunjukkan bahwa dapur Anda sebenarnya adalah "apotek" pertama bagi kesehatan mental Anda. Hubungan antara apa yang Anda telan dan apa yang Anda rasakan bukan sekadar sugesti; perut kita sering dijuluki sebagai "otak kedua" karena usus memproduksi banyak neurotransmiter, seperti serotonin, yang mengatur kebahagiaan.

Mengelola mood lewat makanan tidak harus serumit menghitung kalori atau menjalani diet ketat yang menyiksa. Cara paling sederhana untuk memulainya adalah dengan memahami konsep Psikologi Gizi. Sebagaimana dijelaskan oleh Jacka (2017) dalam penelitiannya, pola makan yang kaya akan sayuran, buah-dua-an, dan protein berkualitas berhubungan erat dengan risiko depresi yang lebih rendah. Alih-alih mencari pelarian pada makanan manis atau junk food saat stres yang justru menyebabkan lonjakan gula darah lalu diikuti penurunan energi drastis (sugar crash), kita perlu menerapkan strategi penanganan yang lebih cerdas secara biologis di dalam piring makan sehari-hari.

Anda dapat memulai dengan memilih karbohidrat kompleks, seperti gandum utuh atau ubi jalar, yang berperan penting saat kita merasa cemas. Karbohidrat jenis ini membantu otak menyerap triptofan untuk diubah menjadi serotonin, sehingga memberikan sinyal "aman" dan "tenang" pada sistem saraf secara alami. Keadaan emosional ini kemudian perlu didukung dengan asupan lemak sehat, mengingat sekitar 60% otak kita terdiri dari lemak. Mengonsumsi Omega-3 dari ikan atau kacang-kacangan bertindak seperti pelumas komunikasi antar sel otak yang, menurut Gomez-Pinilla (2008), sangat krusial untuk menjaga stabilitas emosi agar kita tidak mudah merasa hampa. Terakhir, karena sebagian besar hormon bahagia diproduksi di usus, menjaga kesehatan "pabriknya" melalui makanan fermentasi seperti yoghurt atau tempe menjadi kunci penutup untuk memastikan bakteri baik terus mengirimkan sinyal positif ke otak Anda.

Menghargai hubungan antara makanan dan mood adalah bentuk paling mendasar dari kasih sayang pada diri sendiri. Seperti yang diungkapkan oleh Selhub (2015), memperlakukan tubuh dengan nutrisi yang tepat adalah investasi terbaik untuk kesehatan mental jangka panjang. Anda tidak perlu berubah menjadi ahli gizi dalam semalam, namun mulailah dengan menambahkan satu porsi sayuran hijau atau memilih air putih daripada minuman manis hari ini. Ingatlah, setiap suapan yang Anda ambil adalah kesempatan untuk memberikan dukungan emosional bagi diri Anda sendiri agar tetap tangguh menghadapi hari.

Sebagai biro psikologi terpercaya, Smile Consulting Indonesia adalah vendor psikotes yang juga menyediakan layanan psikotes online dengan standar profesional tinggi untuk mendukung keberhasilan asesmen Anda.

 

Referensi:

Gomez-Pinilla, F. (2008). Brain foods: The actions of dietary components on brain plasticity. Nature Reviews Neuroscience, 9(7), 568–578. https://doi.org/10.1038/nrn2421

Jacka, F. N. (2017). Brain changer: The good guts guide to eating for mind and body. Pan Macmillan.

Selhub, E. (2015). Nutritional psychiatry: Your brain on food. Harvard Health Blog. https://www.health.harvard.edu/blog/nutritional-psychiatry-your-brain-on-food-201511168626

Bagikan