Memuat...
20 April 2026 10:26

Hustle Culture atau Self-Destruction? Cara Kota Mengubah Cara Kita Bekerja

Bagikan artikel

Bangun pagi, kerja tanpa jeda, lembur dianggap wajar, dan istirahat terasa seperti kemewahan itulah gambaran hustle culture yang semakin melekat pada kehidupan kota. Di balik narasi “kerja keras demi sukses”, muncul pertanyaan penting: apakah ini benar-benar produktif, atau justru perlahan merusak diri?

 

Hustle Culture dan Ilusi Produktivitas

Hustle culture sering dipandang sebagai simbol ambisi dan dedikasi. Namun, menurut teori effort-recovery model dari Meijman dan Mulder (1998), individu membutuhkan waktu pemulihan setelah bekerja. Tanpa jeda yang cukup, akumulasi kelelahan akan berdampak pada kesehatan fisik dan mental.

Di kota besar, tekanan untuk terus produktif membuat banyak orang mengabaikan kebutuhan istirahat. Akibatnya, produktivitas yang diharapkan justru menurun karena tubuh dan pikiran tidak memiliki kesempatan untuk pulih.

 

Tekanan Sosial dan Perbandingan Diri

Media sosial dan lingkungan urban memperkuat budaya kompetitif. Festinger (1954) melalui social comparison theory menjelaskan bahwa individu cenderung membandingkan dirinya dengan orang lain untuk menilai pencapaian diri. Dalam konteks hustle culture, hal ini memicu dorongan untuk terus bekerja lebih keras agar “tidak tertinggal”.

Namun, perbandingan yang terus-menerus dapat menimbulkan kecemasan, rasa tidak cukup, dan tekanan internal yang berlebihan.

 

Ketika Kerja Menjadi Identitas Diri

Dalam banyak kasus, pekerjaan tidak lagi sekadar aktivitas, tetapi menjadi identitas. Menurut teori self-determination dari Deci dan Ryan (2000), manusia memiliki kebutuhan dasar akan otonomi, kompetensi, dan keterhubungan. Ketika bekerja hanya didorong oleh tekanan eksternal (seperti tuntutan sosial atau finansial), kebutuhan ini tidak terpenuhi secara optimal.

Akibatnya, individu kehilangan makna dalam pekerjaannya dan lebih rentan mengalami kelelahan emosional.

 

Dampak Jangka Panjang: Dari Stres ke Self-Destruction

Penelitian oleh Utami dan Nugroho (2022) menunjukkan bahwa budaya kerja berlebihan berkaitan dengan peningkatan stres kronis dan risiko burnout pada pekerja di kota. Ketika tubuh terus dipaksa melampaui batasnya, muncul berbagai dampak seperti gangguan tidur, kecemasan, hingga penurunan kesehatan secara keseluruhan.

Dalam kondisi ini, hustle culture yang awalnya dianggap sebagai jalan menuju sukses justru berubah menjadi bentuk self-destruction yang tidak disadari.

 

Kesimpulan

Hustle culture di kota besar sering kali disamarkan sebagai kerja keras yang positif, padahal dapat berdampak negatif jika tidak diimbangi dengan pemulihan dan kesadaran diri. Tekanan sosial, kebutuhan akan pengakuan, dan hilangnya keseimbangan hidup menjadi faktor utama yang mendorong individu ke arah kelelahan mental. Oleh karena itu, penting untuk mendefinisikan ulang makna produktivitas bukan sekadar bekerja tanpa henti, tetapi bekerja secara sehat dan berkelanjutan.

Biro psikologi Smile Consulting Indonesia menyediakan jasa psikotes untuk berbagai kebutuhan asesmen psikologi, baik untuk individu maupun perusahaan. Layanan kami dirancang untuk memberikan hasil yang akurat dan terpercaya.

 

Daftar Pustaka:

Deci, E. L., & Ryan, R. M. (2000). The “what” and “why” of goal pursuits: Human needs and the self-determination of behavior. Psychological Inquiry, 11(4), 227–268.

Festinger, L. (1954). A theory of social comparison processes. Human Relations, 7(2), 117–140.

Meijman, T. F., & Mulder, G. (1998). Psychological aspects of workload. In P. J. D. Drenth & H. Thierry (Eds.), Handbook of work and organizational psychology (2nd ed.). Hove: Psychology Press.

Utami, S., & Nugroho, A. (2022). Budaya kerja berlebihan dan dampaknya terhadap burnout pada pekerja kota. Jurnal Psikologi Sosial Indonesia, 9(1), 55–63.

Bagikan