Pernahkah Anda terjebak dalam kemacetan total saat sedang terburu-buru, lalu Anda mulai berteriak di dalam mobil, memukul setir, dan merasa hari Anda hancur total? Di titik itu, Anda sedang melakukan perlawanan terhadap kenyataan. Secara fisik Anda di sana, tetapi secara mental Anda menolak situasi tersebut.
Dalam psikologi, ada sebuah konsep kuat yang disebut Radical Acceptance (Penerimaan Radikal). Ini bukan berarti Anda pasrah atau setuju dengan keadaan buruk, melainkan berhenti membuang energi untuk melawan hal yang sudah terjadi.
Rumus Penderitaan: Mengapa Kita Merasa Sesak?
Seorang tokoh psikologi, Shinzen Young, menciptakan sebuah analogi matematis yang sangat terkenal untuk menjelaskan hal ini:
Penderitaan = Nyeri x Perlawanan
-
Nyeri (Pain): Adalah hal yang tidak bisa dihindari (putus cinta, hujan saat acara outdoor, gagal ujian).
-
Perlawanan (Resistance): Adalah penolakan kita terhadap nyeri tersebut ("Ini tidak adil!", "Harusnya ini tidak terjadi!").
-
Penderitaan (Suffering): Hasil dari nyeri yang kita "kalikan" dengan perlawanan yang kita buat sendiri.
Menurut Linehan (1993), pencetus Dialectical Behavior Therapy (DBT), penderitaan muncul karena kita terjebak dalam upaya mengubah kenyataan yang mustahil diubah pada saat itu juga.
Visualisasi: Dua Jalan Saat Menghadapi Masalah
Bayangkan Anda sedang mendaki gunung dan tiba-tiba hujan badai datang. Anda memiliki dua pilihan:
|
Pilihan A: Melawan Kenyataan |
Pilihan B: Radical Acceptance |
|---|---|
|
Berteriak pada langit, menangis karena baju basah, dan memaksa terus mendaki sambil marah-marah. |
Mengakui bahwa "Sekarang sedang hujan." Mencari tempat berteduh atau memakai jas hujan. |
|
Hasil: Anda tetap basah, ditambah stres berat dan energi habis. |
Hasil: Anda tetap basah, tapi pikiran Anda tenang untuk mencari solusi selanjutnya. |
Bagaimana Cara Memulainya?
Berdasarkan penelitian oleh Tarah dkk. (2016), penerimaan terhadap emosi negatif justru akan menurunkan intensitas emosi tersebut dalam jangka panjang. Berikut adalah langkah praktisnya:
-
Gunakan Mantra "Begitulah Adanya": Saat sesuatu yang buruk terjadi, katakan pada diri sendiri, "Inilah yang terjadi saat ini. Saya tidak menyukainya, tapi saya tidak bisa mengubah apa yang sudah berlalu."
-
Identifikasi Area Kontrol: Pisahkan mana yang bisa Anda kendalikan (respon Anda) dan mana yang tidak (sikap orang lain, masa lalu, cuaca).
-
Terima dengan Tubuh: Kendurkan bahu Anda, buka telapak tangan (posisi willing hands). Secara biologis, posisi tubuh yang rileks mengirim sinyal ke otak bahwa Anda tidak sedang dalam bahaya.
Paradoks dari Radical Acceptance adalah: Kita tidak bisa mengubah sesuatu sampai kita menerimanya. Dengan berhenti melawan kenyataan, kita melepaskan beban emosional yang berat, sehingga tangan kita kembali bebas untuk mengerjakan apa yang benar-benar bisa kita ubah.
Sebagai bagian dari pusat asesmen Indonesia, biro psikologi Smile Consulting Indonesia menghadirkan solusi asesmen psikologi dan psikotes online berkualitas tinggi untuk kebutuhan evaluasi yang komprehensif.
Referensi
Linehan, M. M. (1993). Cognitive-behavioral treatment of borderline personality disorder. Guilford Press.
Tarah, M., & Shapiro, S. L. (2016). Acceptance and commitment therapy and mindfulness-based stress reduction: A review of theoretical and empirical similarities and differences. International Journal of Mindfulness, 2(1), 1-12.
Young, S. (2016). The science of enlightenment: How meditation works. Sounds True.