Memuat...
19 January 2026 15:10

Kamar Berantakan, Pikiran Berantakan: Seni Menata Ruangan untuk Ketenangan Batin

Bagikan artikel

Pernahkah Anda merasa sulit berkonsentrasi atau merasa lelah secara mental hanya dengan melihat tumpukan baju di kursi atau meja kerja yang penuh kertas berserakan? Fenomena ini bukan sekadar masalah estetika, melainkan cerminan dari kondisi psikologis kita. Dalam psikologi, lingkungan fisik kita sering kali dianggap sebagai perpanjangan dari pikiran kita. Ketika ruangan di sekitar kita penuh dengan barang yang tidak tertata (clutter), otak kita menerima stimulasi visual berlebihan yang memaksa saraf untuk bekerja ekstra keras. Sebuah studi penting oleh Saxbe dan Repetti (2010) menemukan bahwa individu yang menganggap rumah mereka "berantakan" atau penuh dengan proyek yang belum selesai memiliki kadar kortisol (hormon stres) yang lebih tinggi sepanjang hari dibandingkan mereka yang merasa rumahnya sebagai tempat yang tenang dan teratur.

Dampak buruk dari ruangan yang berantakan tidak berhenti pada stres saja, tetapi juga merambat pada kemampuan kognitif kita. Secara ilmiah, otak manusia memiliki keterbatasan dalam memproses informasi secara bersamaan. Penelitian yang dilakukan oleh McMains dan Kastner (2011) di Princeton University menunjukkan bahwa lingkungan yang berantakan secara signifikan membatasi kapasitas pemrosesan di korteks visual otak. Barang-barang yang berserakan bertindak sebagai "pencuri perhatian" yang mengganggu fokus dan produktivitas. Sebagai contoh, saat Anda mencoba membaca buku di tengah ruangan yang kacau, otak Anda secara tidak sadar terus-menerus teralihkan oleh tumpukan barang di pinggir mata Anda, yang pada akhirnya memicu kelelahan mental (mental fatigue) lebih cepat.

Melakukan decluttering atau seni menata ruangan sebenarnya adalah sebuah bentuk intervensi diri yang efektif untuk menciptakan ketenangan batin. Kegiatan memilah barang, yaitu memutuskan apa yang harus disimpan dan apa yang harus dilepaskan dapat memberikan perasaan kendali (sense of control) yang sangat dibutuhkan saat hidup terasa kacau. Menurut Ferrari dkk. (2016), terdapat kaitan erat antara perilaku menunda-nunda dengan kecenderungan menumpuk barang, di mana lingkungan yang rapi dapat meningkatkan kesejahteraan emosional secara keseluruhan. Dengan menyisihkan waktu hanya 10 hingga 15 menit sehari untuk merapikan satu sudut kecil, Anda sedang mengirimkan pesan kepada otak bahwa Anda mampu mengatur hidup Anda. Hasilnya, ruangan yang tertata bukan hanya memanjakan mata, tetapi juga memberikan ruang bagi pikiran untuk beristirahat, bernapas, dan kembali kreatif.

 

Sebagai biro psikologi terpercaya, Smile Consulting Indonesia adalah vendor psikotes yang juga menyediakan layanan psikotes online dengan standar profesional tinggi untuk mendukung keberhasilan asesmen Anda.

 

 

Referensi:

Ferrari, J. R., Jaffe, M., Gould, J., & Dharshani, N. M. J. (2016). Procrastinators and clutter: An aspect of office squalor. Current Psychology, 35(2), 178-185. https://doi.org/10.1007/s12144-015-9379-4

McMains, S., & Kastner, S. (2011). Interactions of top-down and bottom-up mechanisms in human visual cortex. The Journal of Neuroscience, 31(2), 587-597. https://doi.org/10.1523/JNEUROSCI.4766-10.2011

Saxbe, D. E., & Repetti, R. (2010). No place like home: Home as a stressful or restorative environment. Personality and Social Psychology Bulletin, 36(1), 71-81. https://doi.org/10.1177/0146167209352864

 

Bagikan