Memuat...
24 November 2025 11:04

Mengenal Forgiveness Test: Alat Ukur Pemaafan dalam Psikologi

Bagikan artikel

Pernahkah kamu merasa sulit untuk benar-benar memaafkan seseorang yang telah menyakitimu? Atau justru kamu tipe orang yang mudah melepaskan rasa marah dan dendam? Dalam psikologi, ada sebuah alat ukur yang dirancang untuk memahami hal ini, yaitu Forgiveness Test yang dikembangkan oleh Michael E. McCullough dan rekan-rekannya.

 

Apa itu Forgiveness Test?

Forgiveness Test, atau lebih dikenal sebagai Transgression-Related Interpersonal Motivations Inventory (TRIM), adalah kuesioner yang membantu mengukur seberapa jauh seseorang mampu memaafkan setelah disakiti. Tes ini bukan sekadar menanyakan apakah kita “sudah memaafkan” atau belum, tetapi menggali lebih dalam motivasi kita terhadap orang yang bersalah.

 

Dimensi yang Diukur

Forgiveness Test menilai tiga hal penting:

  • Avoidance Motivation → seberapa besar kita ingin menghindari orang yang menyakiti.

  • Revenge Motivation → seberapa besar dorongan untuk membalas dendam.

  • Benevolence Motivation → seberapa jauh kita masih bisa memiliki niat baik terhadap orang tersebut.

Semakin rendah skor avoidance dan revenge, serta semakin tinggi benevolence, maka semakin tinggi pula tingkat pemaafan seseorang.

Contoh Pertanyaan dalam Forgiveness Test

“Saya berusaha menghindari orang ini.” (avoidance)

“Saya berharap orang ini mendapat balasan atas apa yang dilakukannya.” (revenge)

“Saya tetap menginginkan yang terbaik untuk orang ini.” (benevolence)

 

Kenapa Pemaafan Penting?

Penelitian menunjukkan bahwa orang yang mampu memaafkan:

  • lebih sehat secara mental dan fisik,

  • memiliki hubungan sosial yang lebih harmonis,

  • lebih jarang terjebak dalam stres maupun depresi.

Sebaliknya, menyimpan dendam atau menghindari orang lain dalam waktu lama justru bisa memperburuk kesejahteraan psikologis kita.

Forgiveness Test membantu kita memahami diri sendiri: apakah kita masih terjebak dalam dendam, memilih menghindar, atau sudah mulai melangkah ke arah penerimaan. Memaafkan bukan berarti melupakan kesalahan, melainkan membebaskan diri dari beban emosi negatif.

Kalau kamu merasa sulit memaafkan, ingatlah bahwa proses ini butuh waktu dan latihan. Dan kalau dirasa perlu, tidak ada salahnya mencari bantuan profesional seperti konselor atau psikolog.

Biro psikologi Smile Consulting Indonesia menyediakan jasa psikotes untuk berbagai kebutuhan asesmen psikologi, baik untuk individu maupun perusahaan. Layanan kami dirancang untuk memberikan hasil yang akurat dan terpercaya.

 

Referensi:

McCullough, M. E., Rachal, K. C., Sandage, S. J., Worthington, E. L., Brown, S. W., & Hight, T. L. (1998). Interpersonal forgiving in close relationships: II. Theoretical elaboration and measurement. Journal of Personality and Social Psychology, 75(6), 1586–1603.

 

Bagikan