Di tengah suara ramai, obrolan orang-orang, dan aktivitas yang tak pernah berhenti, ada satu hal yang justru semakin bising: pikiran sendiri. Banyak orang merasa sulit “mematikan” isi kepala, bahkan saat tubuh sedang diam. Fenomena overthinking ini menjadi semakin umum di kehidupan kota yang serba cepat.
Overthinking sebagai Pola Pikir Berulang
Overthinking dalam psikologi sering dikaitkan dengan repetitive negative thinking. Watkins (2008) menjelaskan bahwa pola pikir ini melibatkan proses memikirkan masalah secara berulang tanpa menghasilkan solusi. Pikiran terus berputar pada hal yang sama, sering kali berkaitan dengan kekhawatiran masa depan atau penyesalan masa lalu.
Alih-alih membantu, overthinking justru memperkuat emosi negatif seperti cemas dan stres.
Peran Metakognisi dalam Overthinking
Menurut Wells (2000) dalam metacognitive theory, overthinking dipertahankan oleh keyakinan individu tentang pikirannya sendiri. Misalnya, seseorang percaya bahwa terus memikirkan masalah akan membantu menemukan solusi, padahal justru memperburuk kondisi mental.
Keyakinan ini membuat individu sulit menghentikan overthinking karena merasa hal tersebut “perlu” dilakukan.
Lingkungan Kota dan Stimulasi Mental Berlebih
Lingkungan kota yang penuh informasi dan distraksi juga berkontribusi pada overthinking. Penelitian oleh Prabowo dan Kurniawan (2021) menunjukkan bahwa paparan informasi yang berlebihan berkaitan dengan meningkatnya kecemasan dan kecenderungan berpikir berlebihan pada masyarakat perkotaan.
Banyaknya pilihan, tuntutan sosial, dan arus informasi membuat otak terus aktif, bahkan ketika tidak dibutuhkan.
Kurangnya Kesadaran Diri dan Regulasi Emosi
Overthinking juga berkaitan dengan rendahnya kemampuan regulasi emosi. Gross (1998) menjelaskan bahwa individu yang kesulitan mengelola emosi cenderung terjebak dalam pola pikir berulang sebagai bentuk upaya memahami atau mengendalikan perasaan mereka.
Tanpa keterampilan regulasi yang baik, pikiran menjadi “alat utama” untuk mengolah emosi, meskipun tidak selalu efektif.
Kesimpulan
Overthinking di tengah keramaian bukanlah hal yang aneh, melainkan hasil dari kombinasi pola pikir, keyakinan internal, dan tekanan lingkungan. Pikiran yang tidak pernah diam sering kali muncul karena individu mencoba mencari kendali di tengah ketidakpastian. Oleh karena itu, penting untuk mengembangkan kesadaran diri dan strategi regulasi emosi yang sehat agar pikiran tidak terus-menerus terjebak dalam lingkaran yang melelahkan. Diamnya pikiran bukan berarti kosong, tetapi justru ruang untuk pulih.
Sebagai biro psikologi terpercaya, Smile Consulting Indonesia adalah vendor psikotes yang juga menyediakan layanan psikotes online dengan standar profesional tinggi untuk mendukung keberhasilan asesmen Anda.
Daftar Pustaka:
Gross, J. J. (1998). The emerging field of emotion regulation: An integrative review. Review of General Psychology, 2(3), 271–299.
Prabowo, H., & Kurniawan, A. (2021). Paparan informasi dan kecenderungan overthinking pada masyarakat urban. Jurnal Psikologi Indonesia, 10(2), 134–142.
Watkins, E. R. (2008). Constructive and unconstructive repetitive thought. Psychological Bulletin, 134(2), 163–206.
Wells, A. (2000). Emotional disorders and metacognition: Innovative cognitive therapy. Chichester: John Wiley & Sons.