Ngopi cantik di kafe estetik, staycation singkat, atau sekadar “me time” di akhir pekan semuanya sering disebut sebagai bentuk healing. Namun anehnya, setelah kembali ke rutinitas kantor, rasa lelah dan stres itu muncul lagi. Seolah-olah healing yang dilakukan tidak pernah benar-benar cukup.
Healing Instan vs Pemulihan Psikologis
Banyak aktivitas yang disebut “healing” sebenarnya hanya memberikan kesenangan sesaat. Menurut teori hedonic well-being, kebahagiaan yang bersifat hedonis (berbasis kesenangan) cenderung sementara (Diener, 1984). Aktivitas seperti nongkrong di kafe memang menyenangkan, tetapi tidak selalu menyentuh akar stres yang dialami individu.
Hal ini membuat individu terjebak dalam siklus mencari kesenangan berulang tanpa benar-benar pulih secara emosional.
Tekanan Kronis yang Tidak Terselesaikan
Salah satu alasan healing terasa tidak cukup adalah karena sumber stresnya tetap ada. Hobfoll (1989) melalui Conservation of Resources Theory menjelaskan bahwa stres terjadi ketika individu kehilangan atau terancam kehilangan sumber daya (waktu, energi, dukungan sosial). Jika tekanan kerja, beban mental, atau tuntutan hidup tidak berubah, maka energi yang dipulihkan saat healing akan cepat habis kembali.
Di kota besar, ritme hidup yang cepat membuat individu sulit benar-benar “keluar” dari sumber stres tersebut.
Kurangnya Koneksi dengan Diri Sendiri
Healing yang efektif bukan hanya tentang aktivitas luar, tetapi juga refleksi diri. Ryff (1989) dalam konsep psychological well-being menekankan pentingnya aspek seperti penerimaan diri, tujuan hidup, dan pertumbuhan pribadi. Tanpa proses ini, healing hanya menjadi distraksi, bukan pemulihan.
Banyak orang di kota melakukan aktivitas healing tanpa benar-benar memahami apa yang mereka butuhkan secara emosional.
Budaya Healing sebagai Tren Sosial
Fenomena healing juga dipengaruhi oleh tren sosial. Penelitian oleh Saputra dan Anggraini (2022) menunjukkan bahwa perilaku mengikuti tren gaya hidup di kota dapat membuat individu melakukan aktivitas tertentu bukan karena kebutuhan, tetapi karena tekanan sosial.
Akibatnya, healing berubah menjadi “kewajiban baru” yang justru menambah tekanan, bukan menguranginya.
Kesimpulan
Healing di kota terasa tidak pernah cukup karena sering kali hanya bersifat sementara, tidak menyentuh akar masalah, dan dipengaruhi oleh tekanan sosial. Pemulihan psikologis yang sebenarnya membutuhkan lebih dari sekadar aktivitas menyenangkan, ia membutuhkan kesadaran diri, pengelolaan stres yang tepat, dan perubahan dalam cara menjalani hidup. Dengan memahami hal ini, individu dapat mulai beralih dari healing yang instan menuju pemulihan yang lebih bermakna dan berkelanjutan.
Sebagai biro psikologi terpercaya, Smile Consulting Indonesia adalah vendor psikotes yang juga menyediakan layanan psikotes online dengan standar profesional tinggi untuk mendukung keberhasilan asesmen Anda.
Daftar Pustaka:
Diener, E. (1984). Subjective well-being. Psychological Bulletin, 95(3), 542–575.
Hobfoll, S. E. (1989). Conservation of resources: A new attempt at conceptualizing stress. American Psychologist, 44(3), 513–524.
Ryff, C. D. (1989). Happiness is everything, or is it? Explorations on the meaning of psychological well-being. Journal of Personality and Social Psychology, 57(6), 1069–1081.
Saputra, R., & Anggraini, D. (2022). Gaya hidup urban dan perilaku konsumtif generasi muda di perkotaan. Jurnal Psikologi Sosial Indonesia, 9(2), 101–110.