Di tengah kepungan beton dan paparan layar yang tiada henti, manusia modern sering kali mengalami apa yang disebut sebagai defisit alam. Ketegangan saraf yang menumpuk akibat kebisingan kota dan tuntutan pekerjaan yang konstan membuat sistem deteksi ancaman di otak kita bekerja tanpa henti. Di sinilah Terapi Hijau atau Ecotherapy hadir bukan sekadar sebagai aktivitas piknik, melainkan sebagai intervensi psikologis yang memanfaatkan hubungan timbal balik antara manusia dan ekosistem untuk menurunkan tingkat kecemasan secara sistematis.
Secara biologis, berada di ruang terbuka hijau memicu pergeseran aktivitas saraf dari sistem simpatis (fight-or-flight) ke sistem parasimpatis yang menenangkan. Salah satu penjelasan yang paling kuat adalah Teori Restorasi Perhatian (Attention Restoration Theory). Menurut Kaplan (1995), lingkungan perkotaan memaksa kita menggunakan perhatian terarah yang melelahkan. Sebaliknya, elemen alam seperti gerakan daun yang tertiup angin atau aliran sungai menarik perhatian kita secara lembut tanpa menguras energi mental. Proses ini memberikan kesempatan bagi otak untuk beristirahat dan memulihkan kapasitas kognitif yang telah jenuh.
Dampak positif dari terapi hijau juga berkaitan dengan penurunan aktivitas di subgenual prefrontal cortex, bagian otak yang sering diasosiasikan dengan pemikiran negatif yang berulang atau ruminasi. Sebuah studi signifikan oleh Bratman dkk. (2015) menemukan bahwa berjalan kaki selama 90 menit di lingkungan alam, dibandingkan dengan lingkungan perkotaan, secara nyata menurunkan tingkat kecemasan dan memperbaiki suasana hati. Selain itu, paparan terhadap phytoncides (senyawa organik yang dilepaskan oleh pepohonan) terbukti dapat meningkatkan jumlah sel pembunuh alami (natural killer cells) dalam sistem imun kita serta menurunkan kadar kortisol secara drastis.
Guna mengintegrasikan terapi hijau ke dalam rutinitas harian yang padat, beberapa pendekatan praktis berikut dapat dicoba:
-
Praktik mandi hutan (Shinrin-yoku): Ini bukan tentang mendaki gunung dengan target tertentu, melainkan berjalan perlahan di antara pepohonan tanpa tujuan selain merasakan tekstur tanah, mencium aroma tanah basah, dan mendengar suara alam. Kuncinya adalah keterlibatan sensorik secara penuh.
-
Membawa alam ke dalam ruangan: Jika akses ke taman terbatas, memelihara tanaman dalam ruangan atau sekadar mendengarkan rekaman suara alam saat bekerja dapat memberikan efek relaksasi serupa. Kehadiran elemen hijau di lingkungan kerja terbukti menurunkan ambang stres karyawan secara signifikan.
-
Mikro-jeda di ruang terbuka: Luangkan waktu lima hingga sepuluh menit setiap hari untuk duduk di bawah pohon atau di taman tanpa gangguan ponsel. Fokuslah pada bagaimana sinar matahari terasa di kulit Anda, yang merupakan bentuk meditasi alam yang sangat instan.
Kesadaran bahwa manusia adalah bagian integral dari alam merupakan langkah awal menuju ketangguhan mental. Sebagaimana ditegaskan oleh Wilson (1984) melalui hipotesis Biophilia, kita memiliki kecenderungan bawaan untuk mencari hubungan dengan bentuk kehidupan lain. Dengan kembali berinteraksi dengan alam, kita tidak hanya menurunkan tingkat kecemasan, tetapi juga menemukan kembali ritme hidup yang lebih tenang dan harmonis. Alam bukanlah tempat untuk dikunjungi, melainkan rumah yang membantu kita pulang kepada diri sendiri.
Psikotes resmi HIMPSI dari biro psikologi Smile Consulting Indonesia menawarkan solusi asesmen psikologi yang valid dan dapat diandalkan, memastikan hasil yang optimal untuk berbagai keperluan Anda.
Referensi:
Bratman, G. N., Hamilton, J. P., Hahn, I. C., Daily, G. C., & Gross, J. J. (2015). Nature experience reduces rumination and subgenual prefrontal cortex activation. Proceedings of the National Academy of Sciences, 112(28), 8567–8572. https://doi.org/10.1073/pnas.1510459112
Kaplan, S. (1995). The restorative benefits of nature: Toward an integrative framework. Journal of Environmental Psychology, 15(3), 169–182. https://doi.org/10.1016/0272-4944(95)90001-2
Wilson, E. O. (1984). Biophilia. Harvard University Press.