Pernahkah Anda merebahkan diri di kasur setelah seharian bekerja, lalu mulai membuka media sosial, dan tanpa sadar sudah menghabiskan satu jam hanya untuk membaca berita bencana, konflik politik, atau tren kesehatan yang menakutkan? Selamat datang di dunia Doomscrolling.
Doomscrolling adalah istilah untuk perilaku terus-menerus menggulir (scrolling) layar ponsel untuk mengonsumsi berita buruk, meskipun berita tersebut membuat kita merasa cemas, sedih, atau tidak berdaya. Secara psikologis, ini adalah jebakan di mana otak kita merasa bahwa dengan "mengetahui lebih banyak bahaya", kita akan menjadi "lebih siap". Kenyataannya? Justru sebaliknya.
Mengapa Kita Sulit Berhenti? (The Brain Trap)
Otak manusia memiliki apa yang disebut sebagai Negativity Bias (bias negatif). Secara evolusi, nenek moyang kita perlu lebih waspada terhadap ancaman (seperti singa) daripada hal menyenangkan (seperti bunga).
Menurut penelitian oleh Zung dkk. (2020), paparan terus-menerus terhadap berita negatif melalui media sosial memicu aktivitas berlebihan pada amigdala, yaitu pusat emosi dan rasa takut di otak. Hal ini membuat tubuh tetap berada dalam mode fight-or-flight (waspada tinggi) yang konstan. Akibatnya, mental kita mengalami kelelahan kronis karena otak tidak pernah mendapatkan sinyal bahwa kondisi sudah "aman".
Sebuah studi oleh Boukes dkk. (2022) menunjukkan bahwa orang yang terjebak dalam siklus konsumsi berita negatif cenderung mengalami penurunan kepuasan hidup dan peningkatan gejala depresi. Dampaknya terasa seperti "kelelahan empati" (compassion fatigue), di mana kita merasa sangat terbebani oleh penderitaan dunia hingga akhirnya kita merasa mati rasa atau justru sangat mudah tersinggung dalam kehidupan sehari-hari.
Strategi News Detox: Mengambil Kendali Kembali
Untuk melindungi kesehatan mental tanpa menjadi "kurang update", Anda bisa menerapkan strategi intervensi berikut:
-
Metode 2-2-2 (Limitasi Konten):
-
Maksimal 2 sumber berita terpercaya (hindari akun anonim).
-
Hanya 2 kali sehari mengecek berita (pagi dan sore, hindari malam hari).
-
Maksimal 20 menit per sesi.
-
Ubah "Scroll" menjadi "Search": Jangan biarkan algoritma menyuapi Anda berita buruk. Jika ingin tahu perkembangan sesuatu, carilah secara spesifik (search), baca, lalu keluar. Ini lebih sehat daripada membiarkan linimasa menarik Anda ke lubang tanpa dasar.
-
Physical Boundary (Batasan Fisik): Penelitian oleh Kushlev dkk. (2019) menunjukkan bahwa membatasi notifikasi ponsel dapat menurunkan tingkat stres secara signifikan. Jauhkan ponsel dari jangkauan tangan saat makan atau sebelum tidur.
Mengetahui informasi itu penting, tetapi menjaga kesehatan mental adalah prioritas. Anda tidak bisa membantu dunia jika pikiran Anda sendiri sedang "tenggelam" dalam kecemasan. Mulailah melakukan news detox hari ini: Pilih informasinya, batasi waktunya, dan kembalilah ke dunia nyata.
Biro psikologi Smile Consulting Indonesia menyediakan jasa psikotes untuk berbagai kebutuhan asesmen psikologi, baik untuk individu maupun perusahaan. Layanan kami dirancang untuk memberikan hasil yang akurat dan terpercaya.
Referensi:
Boukes, M., & Vliegenthart, R. (2022). News consumption and its unpleasant side effect: The daily effects of news consumption on well-being and the moderating role of news type. Journalism & Mass Communication Quarterly, 99(4), 1010-1031. https://doi.org/10.1177/10776990211041215
Kushlev, K., Proulx, J. D., & Dunn, E. W. (2019). Silence your phones: Harnessing the power of notifications to improve well-being. Journal of Experimental Social Psychology, 85, 103851. https://doi.org/10.1016/j.jesp.2019.103851
Zung, I. R., Ramchandani, P., & Murphy, S. E. (2020). The impact of negative news consumption on internalizing symptoms and the role of emotional cognitive processes. Frontiers in Psychology, 11, 2145. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2020.02145