Memuat...
23 October 2025 10:38

Imposter Syndrome: Meragukan Diri di Tengah Prestasi

Bagikan artikel

Pendahuluan

Imposter Syndrome adalah kondisi psikologis di mana individu merasa tidak layak atas keberhasilan yang telah dicapainya. Meskipun memiliki bukti nyata atas kompetensi dan prestasi, mereka cenderung menganggap keberhasilan tersebut sebagai hasil keberuntungan, bantuan orang lain, atau kebetulan semata. Fenomena ini umum terjadi pada profesional berprestasi, mahasiswa berprestasi, hingga para pemimpin di posisi strategis.

Ciri-Ciri Umum

Beberapa indikator yang sering muncul pada individu dengan Imposter Syndrome antara lain:

  • Merasa takut "ketahuan" bahwa dirinya tidak sekompeten yang orang pikirkan.

  • Mengaitkan keberhasilan dengan faktor eksternal, bukan kemampuan pribadi.

  • Menetapkan standar yang terlalu tinggi untuk diri sendiri dan merasa gagal jika tidak sempurna.

  • Menghindari tantangan baru karena takut gagal dan memperkuat rasa tidak layak.

Penyebab

Penyebab Imposter Syndrome dapat bersifat multifaktor, meliputi:

  • Pola asuh yang terlalu kritis atau terlalu menekankan pencapaian.

  • Lingkungan kompetitif yang membuat perbandingan sosial tak terhindarkan.

  • Pengalaman masa lalu yang membentuk keyakinan negatif terhadap kemampuan diri.

Dampak terhadap Kehidupan

Imposter Syndrome dapat menghambat perkembangan karier, menurunkan kepercayaan diri, meningkatkan stres, dan bahkan memicu kelelahan emosional (burnout). Dalam jangka panjang, hal ini dapat mengurangi kepuasan hidup serta menghalangi seseorang untuk mengambil peluang yang sebenarnya mampu ia jalani.

Strategi Mengatasi

  • Mengakui perasaan tersebut tanpa menghakimi diri sendiri.

  • Menyimpan bukti nyata pencapaian untuk mengingatkan diri akan kompetensi yang dimiliki.

  • Berlatih menerima pujian dengan tulus tanpa meremehkan diri.

  • Mencari dukungan dari mentor, rekan kerja, atau tenaga profesional.

Kesimpulan

Imposter Syndrome bukanlah tanda kelemahan, melainkan sinyal bahwa seseorang peduli terhadap kualitas kinerjanya. Dengan kesadaran dan strategi penanganan yang tepat, perasaan meragukan diri ini dapat dikendalikan sehingga tidak menghambat pertumbuhan pribadi maupun profesional.

Referensi

  • Clance, P. R., & Imes, S. A. (1978). The imposter phenomenon in high achieving women: Dynamics and therapeutic intervention. Psychotherapy: Theory, Research & Practice, 15(3), 241–247.

  • Sakulku, J., & Alexander, J. (2011). The Impostor Phenomenon. International Journal of Behavioral Science, 6(1), 73–92.

Bagikan