Pernahkah kamu merasa ikut sedih saat melihat orang lain kecewa, atau tersenyum hangat ketika melihat kebahagiaan mereka? Bahkan ketika mereka tidak berkata sepatah kata pun, ada sesuatu dalam dirimu yang “merasakan” apa yang mereka rasakan. Sensasi ini kadang membingungkan. Kenapa kita bisa begitu terpengaruh oleh perasaan orang lain?
Inilah yang coba dijawab oleh Interpersonal Reactivity Index (IRI), alat psikologis yang dirancang untuk memahami empati dari berbagai sudut pandang. IRI bukan sekadar alat untuk menilai “siapa yang peduli dan siapa yang cuek.” Lebih dari itu, ia mengajak kita menelusuri lapisan-lapisan empati: dari kemampuan memahami perspektif orang lain, membayangkan pengalaman mereka, merasakan kepedulian tulus, hingga mengelola perasaan diri sendiri ketika terpapar emosi orang lain.
Menyelami Empati Lewat IRI
IRI membagi empati menjadi empat dimensi, yang masing-masing membuka jendela berbeda tentang bagaimana kita berinteraksi secara emosional dan kognitif:
Perspective Taking (PT)
Bayangkan seorang teman kehilangan pekerjaannya. Alih-alih sekadar bilang, “Nggak apa-apa, kamu akan dapat yang lain,” kamu mencoba menempatkan diri dalam posisinya. Bagaimana rasanya menghadapi ketidakpastian finansial? Apa yang membuatnya frustrasi atau takut? Kemampuan untuk “melihat dunia dari sudut pandang orang lain” inilah yang disebut Perspective Taking. Ini empati berbasis pemahaman, bukan sekadar perasaan.
Fantasy (FS)
Ini dimensi yang mungkin terasa sedikit ajaib: kita bisa tersentuh oleh pengalaman orang yang bahkan fiktif. Misalnya, menangis saat menonton film drama atau terbawa emosi tokoh novel favoritmu. Melalui fantasi, kita melatih kemampuan untuk merasakan dan membayangkan pengalaman yang berbeda dari kehidupan kita sendiri. Ternyata, hal-hal yang tampak imajinatif ini juga mencerminkan seberapa dalam kemampuan kita untuk memahami perasaan orang lain.
Empathic Concern (EC)
Empathic Concern adalah dorongan hati untuk peduli dan menolong. Ini bukan sekadar “merasa sedih” atas penderitaan orang lain, tetapi muncul keinginan untuk berbuat sesuatu. Bayangkan melihat seorang anak tersesat di pasar, perasaan panikmu diimbangi dengan tindakan: menolongnya menemukan orang tua. EC menandai empati yang nyata, yang bisa mendorong kita untuk menjadi hadir secara aktif bagi orang lain.
Personal Distress (PD)
Kadang, empati bisa menjadi pedang bermata dua. Saat melihat orang lain kesakitan, sebagian dari kita merasa cemas, takut, atau kewalahan. Itu disebut Personal Distress. Orang dengan PD tinggi bisa merasa sangat terbebani oleh emosi orang lain—mereka ingin membantu, tapi malah terseret emosi itu sendiri. Menyadari PD penting, karena empati yang tidak dikelola bisa memunculkan stres atau kelelahan emosional.
Mengapa IRI Penting bagi Kita yang Awam?
Sebagai pembaca yang penasaran dengan psikologi diri sendiri, IRI menawarkan cermin untuk melihat pola empati kita. Terkadang kita tidak menyadari bagaimana kita merespons emosi orang lain: apakah kita terlalu terbawa, cukup memahami, atau justru kurang sensitif?
Mempelajari IRI bisa membuka kesadaran tentang:
-
Bagaimana perasaan kita terhubung dengan orang lain, bukan sekadar ikut merasakan, tapi juga memahami konteks mereka.
-
Bagaimana kita mengelola empati, agar kepedulian tidak menjadi beban, tetapi kekuatan.
-
Bagaimana empati memengaruhi hubungan, dari keluarga, teman, hingga rekan kerja, bahkan interaksi sosial yang sederhana.
Empati dalam Kehidupan Sehari-hari
Empati bukan sekadar sifat “baik hati.” Ia membentuk cara kita berinteraksi, menyelesaikan konflik, dan membangun ikatan sosial. Seorang pemimpin yang mampu menempatkan diri dalam posisi bawahannya bisa mengambil keputusan lebih bijaksana. Teman yang memahami perasaan kita saat sedang lelah atau sedih memberi rasa aman dan diterima. Bahkan dalam dunia digital, memahami perspektif orang lain bisa mencegah salah paham dan membangun komunikasi yang lebih sehat.
Namun, IRI juga mengingatkan kita: empati harus seimbang. Terlalu terbawa perasaan orang lain bisa menguras energi dan menimbulkan stres. Kurang empati membuat hubungan terasa kaku dan dangkal. Menemukan keseimbangan ini adalah seni yang bisa dilatih melalui refleksi, latihan kesadaran diri, dan praktik menghadapi emosi orang lain tanpa kehilangan kendali.
Menjadi Lebih Sadar dan Berempati Tanpa Terbakar
Dengan memahami IRI, kita bisa mulai refleksi sederhana:
-
Saat orang lain menderita, apakah aku merasa terdorong untuk memahami atau hanya merasa cemas?
-
Apakah aku bisa menempatkan diri dalam posisi mereka tanpa kehilangan perspektif diri sendiri?
-
Bagaimana aku bisa menjaga keseimbangan antara kepedulian dan kesejahteraan pribadi?
Empati yang sehat bukan soal “merasa lebih banyak” daripada orang lain, tetapi mengenal dan mengelola hubungan kita dengan emosi orang lain. IRI memberi kita alat untuk mengenal pola empati kita sendiri, memahami kekuatan dan batasannya, dan menggunakannya untuk membangun hubungan yang lebih hangat, tulus, dan bermakna.
Biro psikologi Smile Consulting Indonesia menyediakan jasa psikotes untuk berbagai kebutuhan asesmen psikologi, baik untuk individu maupun perusahaan. Layanan kami dirancang untuk memberikan hasil yang akurat dan terpercaya.
Referensi:
Davis, M. H. (1980). A Multidimensional Approach to Individual Differences in Empathy. JSAS Catalog of Selected Documents in Psychology, 10, 85.
Decety, J., & Jackson, P. L. (2004). The functional architecture of human empathy. Behavioral and Cognitive Neuroscience Reviews, 3(2), 71–100.
De Waal, F. (2008). Putting the Altruism Back into Altruism: The Evolution of Empathy. Annual Review of Psychology, 59, 279–300.